Anak Susah Makan? Jangan Khawatir, Pancing dengan Cara Alternatif Ini
Jamu cekok banyak dikenal masyarakat sebagai jamu yang diberikan pada anak-anak untuk menambah nafsu makan.
Penulis: Amalia Nurul F | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Orangtua tentu khawatir ketika buah hati tercintanya tak doyan makan.
Terlebih bagi buah hati mereka yang masih dalam masa pertumbuhan tentu membutuhkan banyak nutrisi dari makanan yang dikonsumsi.
Jamu cekok banyak dikenal masyarakat sebagai jamu yang diberikan pada anak-anak untuk menambah nafsu makan.
Kata cekok bermakna memaksa meminumkan jamu dengan cara diperas ke dalam mulut.
Jamu dibungkus dalam selembar kain kemudian dicekok ke mulut si anak, atau dalam bahasa Jawa disebut nyekoki.
Aktivitas nyekoki terlihat di kedai Jamu Cekok Kulon Kerkop Lama yang berada di Jalan Brigjend Katamso 132, tepat sebelah barat bekas taman hiburan rakyat Purawisata.
Pagi itu, Destiana Wulansari (25) membawa putrinya yang masih berusia 20 bulan untuk dicekoki.
"Maem e susah, jadi dibawa kesini buat dicekoki," kata Destiana yang datang jauh-jauh dari Sinduadi, Mlati, Sleman ini kepada Tribunjogja.com.
"Saya sudah dari kecil dicekoki di sini. Dulu yang nyekoki saya simbah-simbah," tambahnya.
Destiana pun menyerahkan anaknya untuk dicekok oleh seorang pegawai jamu cekok kerkop.
Si anak pun tampak menangis dan sedikit memberontak ketika akan dicekoki.
Namun tak lama, proses nyekoki pun selesai dan si anak pun tak lagi menangis.
Selain Destiana, Ardian (31) juga membawa anaknya sedang tak nafsu makan untuk diberi jamu cekok.
"Supaya doyan makan," kata Ardian singkat.
Dirinya mengaku lebih memilih jamu cekok untuk menambah nafsu makan anaknya.
"Sudah terbukti anak jadi doyan makan, udah coba sebelumnya, dan lebih manjur dari obat lain," ungkapnya.
"Ini anak saya usia 3 tahun kurang 3 bulan memang sering saya bawa ke sini, sudah langganan," lanjutnya.
Jamu Cekok Kerkop memang sudah melegenda.
Kini usaha jamu yang sudah ada sejak tahun 1875 ini dikelola oleh generasi kelima.
"Sekarang sudah masuk generasi kelima," ujar Joni Wijanarko (52) putra dari Zaelali (85).
"Pertama dulu Eyang Kerto Wiryo Raharjo, lalu Karso Wijoyo, Abdul Rosjid, dan sekarang bapak saya (Zaelali) bersama saya," urainya.
Bahan jamu cekok ini terdiri dari berbagai empon-empon (tanaman obat) seperti kunir, temu ireng, temugiring, temulawak, hingga daun pepaya.
Kebersihan dan kualitas bahan pun masih terus dijaga dan dipertahankan hingga kini.
Dengan kualitas terjaga, pengunjung hanya perlu merogoh kocek Rp 4.000 untuk jamu cekok anak dan Rp 5.000 untuk jamu orang dewasa.
"Pemilihan bahan, pengolahan, dan kebersihan masih terus dijaga. Meskipun ada alat modern tapi kami tetap pakai lumpang untuk menumbuk bahannya," jelas Joni yang membuka kedai dari pukul 06.00 pagi hingga 19.30 malam ini.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/jamu-cekok-kerkop_20171216_122920.jpg)