Dewi Tia : Main Bola Pantang Baper

Dewi Tia tak memungkiri, profesinya sebagai seorang atlet pasti tak lepas dari koreksi dan juga kritik dari sang pelatih.

ist/dok.pri
Dewi Tia Safitri 

TRIBUNJOGJA.COM - Sudah menjadi kodrat setiap wanita pasti akan mengalami fase Pre Menstruation Syndrome atau PMS yang biasanya diawali gejala nyeri pada bagian perut dan perasaan yang mudah emosi tiap kali menjelang fase menstruasi.

Itupula yang harus dialami oleh Dewi Tia, pesepakbola putri Daerah Istimewa Yogyakarta dan penyerang andalan tim futsal putri DIY Pansa FC.

Dewi Tia yang baru saja meraih predikat pencetak gol terbanyak dan juga pemain terbaik pada ajang Liga Nusantara 2017 beberapa waktu yang lalu ini, mengaku PMS merupakan fase yang berat bagi seoarang atlet wanita.

Apalagi ketika sedang menjalani kompetisi ataupun dituntut melakukan latihan yang berat.

Meski mengaku tiap PMS tentu emosi yang dirasakan lebih labil dan mudah terpancing, namun sebagai seorang atlet yang akrab dengan tekanan dari pelatih dan juga atmosfer kompetisi yang ketat, menurutnya hal tersebut harus mampu dikendalikan.

"Ya biasa aja, nggak bisa dimasukin hati. Kalau PMS kan sudah kodratnya wanita, jadi nggak bisa buat alasan juga," ujar Dewi.

Dewi Tia tak memungkiri, profesinya sebagai seorang atlet pasti tak lepas dari koreksi dan juga kritik dari sang pelatih.

Meski begitu, menurutnya hal tersebut merupakan suatu yang lumrah, namun tak banyak pesepakbola wanita yang dapat melewati tantangan ini.

"Kuncinya sih konsisten. Sebenarnya potensi pesepakbola wanita di Yogyakarta itu bagus, tapi kebanyakan tidak bisa konsisten dalam latihan. Sekali dapat kritik besoknya sudah tidak latihan," ungkap Dewi.

Beruntung Dewi mempunyai Sonya Januari Putri, pelatihnya di Pansa FC dan tim sepakbola putri DIY yang selalu terbuka menerima curhatan para pemainnya.

Menurut Dewi, karena sama-sama wanita, ia dapat lebih terbuka bercerita ataupun berkeluh kesah bukan hanya persoalan dilapangan, namun juga masalah pribadi.

Selain itu, menurutnya jika ingin menjadi pesepakbola wanita yang bagus tentu harus konsisten dalam berlatih karena latihan merupakan tanggung jawab diri sendiri.

"Diluar latihan rutin bersama Pansa FC, saya biasanya tambah porsi latihan sendiri di rumah. Biasanya saya skipping, atau latiahan dribbling, dan jogging untuk jaga kondisi," ujar Dewi.

Selain itu, sebagai seorang atlet menurut Dewi juga harus memiliki mental yang kuat di lapangan ataupun di luar lapangan. Dewi menceritakan, meski diluar lapangan, ia juga sering menerima perkataan yang tak mengenakan baginya, apalagi yang dikritik adalah masalah penampilannya yang terlihat tomboi.

"Sering banget diomongin, 'cewek kok mainnya sama cowok', 'cewek kok main bola', sering dikira cowok karena lihat dari penampilan," ujar Dewi.

Meski begitu, Dewi tak mau ambil pusing dengan gunjingan yang kerap tertuju padanya. Menurutnya daripada meladeni ujaran tersebut, lebih baik ia buktikan dengan prestasi. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved