UGM Bakal Seleksi Calon Mahasiswa

Untuk meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah merencanakan adanya pembatasan jumlah mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi negeri.

UGM Bakal Seleksi Calon Mahasiswa
TRIBUNJOGJA.COM / Santo Ari
Kunjungan rombongan Tribun Jogja yang ditemui Rektor UGM, Panut Mulyono, Kamis (14/12/2017). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Universitas Gadjah Mada miliki tim khusus dalam perekrutan mahasiswa melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Dengan langkah itu maka UGM berkomitmen untuk mencetak kualitas lulusan yang baik.

Rektor UGM Panut Mulyono, menjelaskan SNMPTN adalah penerimaan mahasiswa berbasis nilai rapor. Namun ada pertanyaan, apakah nilai 9 misalnya, dari sekolah satu dengan sekolah yang lain memiliki standar yang sama? Hal ini menurut Panut akan menjadi rancu.

"Maka kami membuat tim yang kuat, didukung ahli matematika dan statistika dalam proses penerimaan ini, dan itu hasil yang dikelurkan valid," ujarnya Kamis (14/12/2017).

Tim itu akan menggali asal SMA dari calon mahasiswa yang mendaftar.

Pihaknya pun mengaku sudah memiliki data semua SMA di seluruh Indonesia.

Dari data tersebut, pihaknya dapat membuat ranking SMA di seluruh Indonesia.

Untuk meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah merencanakan adanya pembatasan jumlah mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi negeri.

Panut sependapat dengan hal tersebut.

Menurutnya mahasiswa perguruan tinggai yang berlebih dari pada rasio jumlah dosen akan mengakibatkan proses belajar mengajar tidak berjalan dengan baik.

Karena kelasnya banyak, maka jumlah sks dosen dalam mengajar juga membengkak dan itu tidak baik.

Menurutnya, pengurangan jumlah mahasiswa S1 juga suatu keuntungan bagi dosen.

Dosen jadi memiliki waktu yang lebih besar untuk melakukan tri dharma yng lain kecuali mengajar.

Karena mengajarnya bisa di batas minimum, maka dosen bisa mempunyai waktu lebih banyak untuk melakukan penelitian ataupun menulis buku dengan baik.

"Dosen juga harus dibatasi berapa SKS yang bisa ia miliki. Standarnya 12 sampai 16 sks. Kalau lebih dari itu proses belajar tidak belajar dengan baik sehingga output lulusannya juga tidak baik," tambahnya.(*)

Penulis: nto
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved