Inisiasi Silang Pandang Indonesia dan Jerman, Goethe Institut Gelar 5 Desa 5 Pulau
Program ini mencoba untuk melihat bagaimana 5 filmmaker indonesia melihat desa-desa di jerman dan sebaliknya.
Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho | Editor: oda
Laporan Reporter Tribunjogja.com, Wahyu Setiawan Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM YOGYA - Program 5 desa 5 pulau merupakan gagasan dari Dr Heinrich Blomeke dari Goethe Institut Indonesia dengan Pepe Danquart dari Universitas Seni Hamburg (HFKB Hamburg).
Hal ini didasari pada peristiwa alam yang secara tidak sadar telah memberikan manusia pengalaman dan pengetahuan namun hal ini dianggap sesuatu hal yang biasa dan dibiarkan begitu saja.
Lantas akan sangat menarik ketika hal tersebut dituangkan dalam sebuah karya dokumenter untuk mengingatkan manusia akan hal itu.
Program ini mencoba untuk melihat bagaimana 5 filmmaker indonesia melihat desa-desa di jerman dan sebaliknya bagaimana pandangan 5 filmmaker jerman melihat kehidupan pulau-pulau di Indonesia.
"Sepuluh pembuat film mengamati sekaligus merekam ciri, karakter, dan denyut kehidupan yang khas dalam waktu yang telah ditentukan," ujar Dr Heinrich Blomeke selaku penggagas sekaligus Regional Director Goethe Institut for South East Asia and Oceania.
Sineas indonesia yang ikut dalam program ini diantaranya adalah Andrianus Oetje Merdi (di Sumte, Neidersachten), Bani Nasution (di Leidingen, Saarland), Wahyu Utami Wati (di Pellworm) dan Tunggul Banjaransari (di Welzow).
Sedangkan seniman jerman yang tinggal di pulau pulau di Indonesia diantaranya yaitu Yannick Kaftan yang tinggal di suku Bajo, Anna Walkstein yang menyaksikan masyarakat Bobanehena, Samuel J Heinrichs yang tinggal bersama masyarakat Ba'a Rote, Marko Mijatovic yang penasaran dengan cara penyembuhan masyarakat maluku dan Max Sanger yang menampilkan proses pemakaman tradisi Marapu.
Dalam program ini Goethe Institut bekerja sama dengan Festival Film Dokumenter 2017 untuk proses penayangan premier atau perdana hasil karya sineas yang tergabung dalam program 5 desa 5 pulau ini.
Selain itu ada juga sesi diskusi mengenai proses selama masa program berlangsung sehingga semakin mendekatkan para penonton dengan para filmmaker dalam program tersebut.
Harapannya penonton mampu benar-benar merasakan apa yang ada dalam film tersebut.
"Intinya kita ingin memberikan kesempatan pada seniman atau filmmaker muda di Indonesia dan Jerman untuk merasakan bagaimana kehidupan di dua tempat berbeda dan disampaikan melalui karya film ini," kata Dr Heinrich Blomeke di sela Diskusi dengan para filmmaker dari Indonesia di Auditorium IFI-LIP Sagan Yogyakarta senin (11/12/2017). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/dr-heinrich-blomeke-di-dalam-acara-diskusi-bersama-seniman-film-indonesia_20171211_204642.jpg)