Smash Keras Jadi Jurus Andalan Atlet Voli Ini

Selain mengambil smash dengan sudut tinggi, Kuala juga menambahkan kekuatan tamparan yang kuat sehingga smash yang dihasilkannya sangat keras.

Tayang:
Penulis: ang | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Angga Purnama
Kaula Nurhidayat 

TRIBUNJOGJA.COM - POSTUR tubuh yang lebih tinggi dari remaja seumurannya, menjadi keuntungan bagi Kaula Nurhidayat, smasher tim putra Yuso Sleman.

Tinggi 192 cm memudahkannya menjangkau bola-bola tinggi sekaligus melesakkan smash dari sudut yang tinggi.

Bicara soal smash, atlet voli yang masih berusia 17 tahun ini punya jurus jitu yang sering memporakporandakan formasi tim lawan sekaligus membuat libero lawan kelabakan.

Selain mengambil smash dengan sudut tinggi, Kuala juga menambahkan kekuatan tamparan yang kuat sehingga smash yang dihasilkannya sangat keras dan cepat.

Posisi smash yang cukup tinggi juga membuat bola melaju tajam di sudut yang tidak diperkirakan lawan.

Hasilnya, pertahanan lawan sering kali kebobolan gara-gara jurus mautnya ini.

Ya, smash keras dan tajam memang jadi andalan remaja asal Purwomartani, Kalasan ini.

Ditanya dari mana ia mempelajari pukul mematikan ini, Kuala mengaku melatihnya sendiri.

Namun jurusnya ini justru memikat pelatih-pelatihnya.

"Awalnya hanya lihat senior berlatih, juga pemain-pemain voli profesional. Kemudian latihan sendiri sampai menemukan feel yang pas," ungkapnya ditemui usai laga penyisihan pool di GOR Amongrogo.

Tapi bukan itu saja jurus yang dimiliki atlet yang masih duduk di bangku kelas XII SMAN 1 Depok ini.

Ia juga sering mengeluarkan jurus servis keras dengan bola yang melesak cepat.

Jurusnya ini juga sering jadi penyebab tim lawan heboh dan kelabakan untuk passing bola hingga gagal mencetak poin.

"Memang sengaja, setiap kali dapat giliran servis pasti diusahakan sekeras dan setajam mungkin. Jadi lawan sulit untuk passing bola," ujarnya.

Akibat jurus yang selalu digunakan saat berlaga ini, sering membuat mental lawan down sampai kehilangan koordinasi.

Selain itu, poin yang didapat setelah baru saja servis bola ini juga dilakukannya untuk mengangkat semangat tim nya.

Kuala memang punya passion besar di voli. Hal ini tak lain dari pengaruh didikan sang ayah, Riyanto.

Sejak kecil dia sering diajak sang ayah ketika bermain voli antar kampung.

Meski awalnya ia mengukai sepak bola, Kuala akhirnya memilih voli setelah ayahnya membuat lapangan voli di depan rumah.

Dari situ, passion volinya perlahan bangkit hingga mengantarkannya masuk ke tim Indonesia di ajang Asian School Games dan mendapatkan medali perak di tahun 2016 dan 2017. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved