Semangat Hafidh, Seorang Anak Difabel yang Bercita-cita Jadi Tentara

Hafidh mengalami Duchenner Dystrophy (DMD) atau pelemahan otot perlahan-lahan sejak beberapa tahun terakhir.

Tayang:
Penulis: Tantowi Alwi | Editor: oda
tribunjogja/tantowi alwi
Siti dan Hafidh saat ditemui di Lapangan Denggung, Sleman, Minggu (26/11/2017). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Tantowi Alwi

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Muhammad Hafidhul Hidayat, Hafidh nama panggilannya, tampak bahagia saat berhasil menang dalam lomba menggambar 'Cita-citaku saat besar nanti' dan lomba kursi roda hias dalam acara karnaval anak 2017, Minggu (26/11/2017).

Karnaval anak diselenggarakan oleh United Cerebral Palsy (UCP) Roda untuk Kemanusiaan dan berlangsung di Lapangan Denggung, Sleman.

Hafidh yang saat ini tengah duduk di kelas V sekolah dasar berhasil menjadi juara pertama di kedua kategori lomba tersebut.

Hafidh mengalami Duchenner Dystrophy (DMD) atau pelemahan otot perlahan-lahan sejak beberapa tahun terakhir.

Siti, ibunda Hafidh begitu bahagia melihat anaknya semangat dan ceria meski dalam kondisi berkebutuhan khusus.

"Setidaknya dia semangat dan senang dalam menjalani kehidupan serta untuk menyalurkan cita-citanya yang ingin jadi tentara," kata Siti yang berurai air matanya.

Siti menceritakan dokter di Rumah Sakit Sardjito, Eri namanya, yang saat inj tengah menangani pengobatan fisioterapi Hafidh, sering menyemangati anaknya.

Bahkan ia sangat kagum melihat semangat Siti dan anaknya dalam menjalani proses pengobatan.

"Dokternya senang melihat semangat kami. Sudah 3,5 tahun fisioterapi di RS Sardjito, berusaha mencari obat untuk DMD, saya tetap semangat," tutur Siti.

Karena melihat semangat dirinya dan anaknya itu, Dokter Eri berusaha mencari bantuan untuk berobat ke Singapura.

"Alhamdulillah, nanti bulan Maret 2018, anak saya akan mendapatkan pengobatan gratis di Singapura, di sana ada obat mutasi DNA," kata Siti.

Siti mengungkapkan mutasi DNA dapat menambah umur lebih dari 20 - 30 tahun penderita DMD.

Kondisi Hafidh tidak membuat dirinya patah semangat untuk sekolah.

Meski tubuhnya tidak cukup kuat, ia tetap mengikuti seluruh pelajaran di sekolah.

"Kalau dia mau pipis, gurunya SMS saya, saya yang temenin Hafidh. Sekitar 7 menit naik motor dari rumah ke sekolah," ujar Siti.

Di sekolah jika ada sepuluh soal yang diberikan guru, Hafidh hanya menjawab sekuatnya saja karena tangannya pegal.

Dikatakan Siti, Hafidh makannya tidak banyak, karena capek mengunyah.

Hafidh, anak ketiga dari empat bersaudara ini pernah didorong adik kelasnya sampai jatuh dari kursi rodanya.

"Ceritanya saat itu Hafidh kuat dorong kursi roda sampai depan kelas, lalu datang adik kelasnya naik ke bagian belakang kursi roda, setelah didorong akhirnya jatuh," ujarnya.

Siti sangat berharap sekali dapat perhatian dari pemerintah

"Dengan kondisi anak DMD, kita minta bantuan minimal untuk suntik regenerasi sel. Saat ini pemerintah belum ada bantuan untuk meringankan beban kami," kata Siti.

Siti mengatakan pemerintah beralasan belum ada dana untuk memberikan bantuan yang dimintanya.

Selain itu Siti juga berpesan kepada orangtua yang senasib dengan dirinya untuk saling menyemangati satu sama lain.

"Meskipun punya keterbatasan, anak harus lebih disayangi dari yang sebelumnya. Anak-anak kita sangat butuh semangat dari orangtua," tutur Siti. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved