Penyaluran Tak Tepat Sasaran Jadi Faktor Terjadinya Kelangkaan Gas Elpiji 3 KG

Seharusnya gas yang mendapatkan subsidi dari pemerintah itu diperuntukan untuk warga miskin maupun para pelaku usaha mikro.

Penyaluran Tak Tepat Sasaran Jadi Faktor Terjadinya Kelangkaan Gas Elpiji 3 KG
Tribun Jogja/ Singgih Wahyu Nugraha
Karyawan di sebuah gudang transit agen gas elpiji di Sleman tengah mengangkut tabung-tabung gas melon untuk didistribusikan ke pangkalan, Senin (3/10/2016). 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Kelangkaan gas elpiji 3kg di tengah masyarakat Indonesia sudah menjadi hal yang tak pernah habisnya untuk diperbincangkan.

Bagaimana tidak, bahan bakar yang kerap disebut sebagai gas melon ini pun menjadi barang yang bisa dikatakan sebagai kebutuhan primer bagi masyarakat Indonesia sejak beberapa tahun silam.

Kepala Bidang Energi Baru dan Terbarukan Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Eliana menuturkan, bahwa kelangkaan yang kerap terjadi di tengah masyarakat Indonesia, atau khususnya di Provinsi Jawa Tengah, merupakan suatu hal yang terjadi akibat adanya salah sasaran dalam penjualan gas 3kg di masyarakat.

Seharusnya gas yang mendapatkan subsidi dari pemerintah itu diperuntukan untuk warga miskin maupun para pelaku usaha mikro.

“Pengguna adalah rumah tangga yang penghasilanya Rp 1,5 juta perbulan dan usaha mikro. Jadi Ibu dan bapak para pangkalan jangan menjual elpiji 3kg kepada masyarakat yang mampu, mereka datang dengan menggunakan mobil, membeli satu sampai 2 jangan diberi. Kasihan nanti yang berhak nggak akan kebagian untuk sesuatu yang seharusnya didapatkan olehnya,” ungkap Eliana, Selasa (21/11) dalam acara Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Pendistribusian Elpiji 3kg di Kabupaten Klaten.

Tegasnya, bahwa para pangkalan yang berada di Provinsi Jawa Tengah, khususnya yang ada di Kabupaten Klaten mesti memperhatikan hal tersebut, yaitu untuk menjualnya kepada orang-orang yang tepat, juga mengurangi penjualan gas melon kepada pengecer.

“Imbauan kami kepada para pangkalan dijual kepada yang berhak. Kemudian mengenai harga sendiri sudah ditetapkan oleh pemerintah untuk Provinsi Jawa Tengah dengan harga Rp 15.500, dengan rincian margin pangkalan Rp 1.250. Memang itu berlaku sejak dua tahun lalu. Kami menetapkan harga itu dengan perincian berapa dan margin berapa itu sudah melalui kajian dari pemerintah provinsi, kabupaten kota, yayasan konsumen Indonesia. Itu sudah diperhitungkan, bukan hanya pemerintah provinsi saja,” paparnya. 

Ditemui dalam kesempatan yang sama, Andhika Tri Nugroho, Checker PT Pertamina untuk wilayah Kabupaten Klaten mengungkapkan, bahwa selama ini pihaknya tidak pernah melakukan pengurangan untuk alokasi gas 3kg kepada seluruh wilayah di Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Klaten.

Hal ini sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh pihaknya selama ini.

“Tidak ada pengurangan ke agen maupun pangkalan. Kelangkaan selama ini biasanya ada penyerapan dari pangkalan yang meningkat, jadi dari bulan ke bulan ada peningkatan dan banyaknya itu dari pangkalan dijual kepada pengecer, jadi kan untuk masyarakat sekitar yang membutuhkan itu tidak tersedia. Stok Pertamina ke agen sama, bahkan bertambah,” jelas Andhika saat ditemui dalam acara yang sama, Selasa (21/11) di Gedung RSPD Klaten. (*)

Penulis: abm
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved