LIPSUS TRIBUN JOGJA

Fenomena Prostitusi Pelajar di Jogja - Bolos Sekolah Demi Lembaran Rupiah dari Pria Hidung Belang

Mirisnya, tak sedikit praktik prostitusi online ini yang melibatkan anak di bawah umur, utamanya gadis-gadis yang masih duduk di bangku sekolah

Fenomena Prostitusi Pelajar di Jogja - Bolos Sekolah Demi Lembaran Rupiah dari Pria Hidung Belang
Net
Ilustrasi 

"Langsung masuk ajaa. Nanti naik yaaa. Tangga belok kiri. Nggak usah tanya penjagane," begitu isi pesan WhatsApp tersebut.

Jarum jam menunjukkan pukul 23.00 ketika Tribun Jogja sampai di indekos yang dimaksud.

Suasana indekos terlihat sepi, pintu gerbang dari teralis besi itu terlihat belum ditutup rapat-rapat.

Begitu masuk di halaman indekos tersebut kendaraan roda dua maupun roda empat sudah terparkir berjejer rapi.

Tribun Jogja perlahan melangkah masuk menuju kamar yang dituju.

Tiba-tiba seorang penjaga indekos memberhentikan langkah, mencecar bermacam pertanyaan akan maksud kedatangan.

Waktu itu, dengan alasan mengantarkan uang akhirnya dikantongilah izin untuk menuju kamar yang dituju.

Terletak di lantai dua, seorang wanita berambut pirang yang tak lain si mucikari ini kemudian menyapa mempersilakan masuk.

Di dalam kamar tersebut, terdapat seorang pemuda dan seorang wanita berambut hitam sebahu.

Ketiganya terlihat masih muda. Belakangan diketahui si pemuda yang ada di kamar tersebut merupakan pasangan si mucikari.

Setelahnya, si mucikari beserta psangannya bergegas meninggalkan kamar.

Tinggalah Tribun bersama si gadis yang diduga masih duduk di bangku sekolah ini.

Sebut saja Kenanga, gadis kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah ini begitu ramah menyapa.

Tak ada kesan seksi dan erotis ketika melihat gadis berperawakan mungil ini.

Mengenakan pakaian berlengan pendek berwarna biru, serta bercelana jins warna hitam.

Berkali-kali senyum manis Kenanga terlontar dari bibir mungil merah bergincunya.

Gadis yang lahir di tahun 1999 silam ini kelihatan begitu supel, melemparkan bermacam candaan diikuti dengan polah tingkahnya yang begitu menggemaskan.

Gadis bertinggi sekitar 155 sentimeter ini terlihat sangat mudah bergaul dan akrab dengan orang baru.

Hal itu tergambar dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos seakan sudah berkawan lama.

Kepada Tribun Jogja, Kenanga mengaku baru enam bulan ini berada di Yogya.

Dia menetap di sebuah indekos, namun entah di mana berada.

Ketika disinggung keberadaannya, Kenanga enggan memberikan jawaban.

"Ih.. kepo," selorohnya.

Kenanga dengan santainya bercerita kesana kemari akan perjalanan hidupnya.

Dari mulai kisah cintanya yang kandas, masa studinya yang terbengkalai, hingga kehidupan selama di Yogya dia umbar.

Dari pengakuannya saat itu, Tribun Jogja adalah tamu pertamanya.

"Baru ini aku. Beneran ini yang pertama kalinya," ujarnya singkat.

Entah benar atau tidak, yang jelas awal mula dia berani mencicipi dunia prostitusi setelah berteman lama dengan si Melati, yang tak lain adalah si mucikari.

"Kenalnya di sebuah kafe belakang mal, aku sendiri yang minta. Bisa nggak cariin aku tamu," kenang Kenanga.

Dari perkenalan itu, Kenanga kemudian diajak untuk terjun ke dalam dunia prostitusi.

Untuk sekali kencan, Kenanga mematok tarif Rp 500 ribu. Kemudahan mencari rupiah ini seperti membuat Kenanga gelap mata.

"Yang Rp 400 buat aku, yang Rp 100 buat Melati. Tanda terimakasih udah nyariin tamu dan dipinjami tempat juga," jawabnya.

Kenanga pun tak terlalu menarget berapa tamu yang hendak ia layani.

Dari pengakuannya, selama tubuh mungilnya masih bisa diajak bekerja, selama itu pula dia akan terus berpeluh menimba rupiah.

Lewat aplikasi pesan WhatsApp Kenanga mulai ditawarkan kepada para lelaki hidung belang. Kenanga pun mesti bolak-balik Solo-Yogya untuk mencari pasaran.

Disinggung kenapa tidak membuka praktik di tanah kelahirannya, dia berdalih bahwa kota Solo sangatlah sepi. Kontras dengan kehidupan di Yogyakarta.

"Di Solo sepi, mas. Enakan di Yogya. Rame. Lagian di sini juga buat nyari pengalaman, selagi muda carilah banyak pengalaman. Uangnya bisa buat hiduplah, mas," kata anak kedua dari dua bersaudara ini.

Pertemanan dia dengan Melati pun berdampak akan masa studinya. Kenanga yang mengaku siswi kelas XII di sebuah Sekolah Menengah Atas di Mojosongo ini banyak absen dari kegiatan belajar mengajar.

"Karena pengen nyari duit, ya sekolah kebanyakan bolos. Apalagi ini mau ujian kan. Pengennya sih cepet lulus, baru kerja," kata gadis 18 tahun ini.

Dicecar bermacam pertanyaan, Kenanga juga merasa risih.

Maka tak jarang dia sesekali menggerutu dengan banyaknya pertanyaan yang terlontar.

"Ini malah nanya terus ee," tanyanya.

Ditanya adakah teman atau bahkan kerabat yang mengetahui akan kesibukan dia, tak sedikit pun mulutnya bergeming.

Di tengah-tengah cerita, sebenarnya Kenanga tahu akan resiko yang menghantui dari praktik prostitusi ini, yaitu penyakit kelamin.

Untuk menyiasati hal-hal yang tidak diinginkan, sebelumnya Kenanga telah memeriksakan alat reproduksinya di Puskesmas di daerah tempat tinggalnya.

"Ya takut mas, mesti rutin cek kesehatan kelamin. Kalau sebelumnya cuma 3 bulan sekali. Setelah kerja seperti ini, ya mau nggak mesti 1 bulan sekali rutin cek ke Puskesmas," katanya.

"Kalau di Solo biayanya Rp 300 ribu sekali periksa. Kalau di sini kurang tahu," tambahnya.

Selain itu, lanjutnya, Kenanga mewajibkan setiap tamu yang hendak menikmati tubuhnya mesti mengenakan pengaman. (*)

Penulis: sis
Editor: Ikrob Didik Irawan
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved