PSIM Yogyakarta

Punggawa PSIM Minta Manajemen Segera Penuhi Hak Pemain yang Tertunda

Menurut Dicky, mungkin ini sudah puncak dari kesabaran ia dan teman-temannya di PSIM.

Tayang:
Tribunjogja.com | Suluh Pamungkas
PSIM JOGJA 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hanif Suryo

TRIBUNJOGJA.COM - Tak kunjung menerima kejelasan dan kepastian pembayaran gaji dan bonus, pemain PSIM Yogyakarta menuntut pihak manajemen untuk segera memenuhi hak mereka.

Melalui berbagai unggahan di media sosial pribadinya, pemain PSIM menuliskan keluh-kesahnya karena pihak manajemen mengulur-ulur waktu pembayaran dan hingga sekarang tak juga menemui kejelasan.

Pemain PSIM Yogyakarta, Dicky Prayoga Fammy Hidayat, mengungkapkan sebelum melakoni playoff Liga 2 di Malang Oktober lalu, pihak manajemen menjanjikan pembayaran gaji dan juga bonus tambahan di luar bonus pertadingan apabila Laskar Mataram dapat lolos dan bertahan di Liga 2 musim depan.

"Jadi sebelum berangkat ke Malang kita sudah menerima satu kali gaji (September-red), lalu manajemen menjanjikan akan memberi satu kali gaji lagi untuk bulan Oktober," ujar pemain asal Malang ini kepada Tribunjogja.com, Minggu (12/11/2017).

Dicky menambahkan, pemberian gaji di bulan Oktober tersebut diberikan karena para pemain melakoni play off hingga tanggal 18 Oktober, dan telah terhitung melewati batas pemberian gaji yang biasa mereka terima tanggal 10 tiap bulannya.

"Ya istilahnya kita sudah bekerja lebih dari dua minggu, jadi tetap dihitung satu bulan gaji, dan itu disampaikan secara lisan oleh pihak manajemen sebelum kita menjalani play off," ungkap Dicky.

Setelah mampu memenuhi target dari manajemen, Dicky dkk mulai kebingungan karena dari pihak manajemen tak ada komunikasi lagi terkait pemberian gaji dan bonus play off dan pihak manajemenpun susah dihubungi.

"Perjanjian awal itu justru bonus playoff seharusnya dibayarkan saat tanggal 29 Oktober, bersamaan dengan wacana pertandingan perpisahan Mas Ony, akhirnya molor dan nggak jelas," ujar mantan pemain PSS Sleman ini.

Bahkan pertandingan yang awalnya diselenggarakan tanggal 29 Oktober 2017 itu beberapa kali ditunda. 

"Awalnya tanggal 29 Oktober, lalu tanggal 5 November, diundur lagi tanggal 11. Alasan pertandingan nggak jadi ya karena lapangan dipakai, keamanan nggak siap, sampai terakhir katanya di undur tanggal 18 November," jelas Dicky.

Menurut Dicky, ia dan para pemain PSIM lainnya sebenarnya tidak mempermasalahkan keterlambatan gaji, karena sajak awal kompetisi para pemain hanya 2 kali saja menerima gaji tepat waktu.

"Kami hanya ingin dihargai, sejak berjalannya kompetisi mereka juga jarang hadir. Bahkan saat pertandingan resmi mereka tidak hadir juga pernah," ujar Dicky.

Kekecewaan para pemain semakin bertambah usai tak ada satupun dari pihak manajemen yang memberikan apresiasi atau sekadar ucapan saat PSIM berhasil memastikan bertahan di Liga 2 usai menang pada pertandingan play off melawan PSBK Blitar.

Menurut Dicky, mungkin ini sudah puncak dari kesabaran ia dan teman-temannya di PSIM.

"Ya padahal saat itu kita sedang euphoria, menang dan kita rayakan di dalam lapangan hingga ruang ganti. Kita sudah bekerja matian-matian tapi mereka istilahnya nggampangke. Kami berharap dapat dihargai dan di uwongke," tambah Dicky.

Sementara itu, pemain PSIM lainnya, Engkus Kuswaha membenarkan pernyataan Dicky.

Menurut Engkus, pihak manajemen telah coba dihubungi oleh para pemain PSIM termasuk dirinya, namun tidak kunjung memberikan tanggapan.

"Saya sudah terlanjur membeli tiket ke Yogya untuk pertandingan yang katanya tanggal 11 November. Saya mikirnya pas gajian juga sekalian main dan silaturahmi, akhirnya meleset juga dan tidak ada kabar sampai sekarang," ungkap Engkus.

Engkus berharap hubungan antara pemain, pelatih, dan manajemen kedepan lebih baik lagi.

Menurutnya, para pemain PSIM tidak mempermasalahkan keterlambatan gaji, namun menuntut manajemen lebih peduli dan komitmen dengan janji.

"Semua pemain sebenarnya tidak rewel, yang penting komunikasi lancar dan terbuka itu saja," ujar Engkus.

Sementara itu, Sekretaris PSIM, Jarot Sri Kastawa mengaku hingga kini dirinya juga tak bisa memberikan statement apapun karena dirinya juga kesulitan menghubungi Ketua Umum PSIM Agung Damar Kusumandaru.

"Saya sejak habis play off sampai sekarang seperti lost contact dengan Pak Agung. Saya telepon tidak dijawab, saya sms juga tidak dibalas," ujar Jarot saat dihubungi Tribun Jogja, Minggu (12/11/2017).

Menurut Jarot beberapa pemain juga mencoba menanyakan kejelasan gaji dan bonus kepadanya, namun ia tidak dapat memberikan keputusan karena itu memerupakan wewenang Ketua Umum.

"Saya mau koordinasi untuk membuat pertanggung jawaban, rapor pemain, dan sebagainya juga kesulitan," ujar Jarot. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved