Hak-hak Difabel Dinilai Belum Terlayani Maksimal di Halte dan Bus Trans Jogja
Komite Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Difabel DIY melakukan pemantauan di 11 Shelter/Halte dan Bus Trans Jogja.
Penulis: Tantowi Alwi | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Tantowi Alwi
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Komite Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Difabel DIY menilai aksesibilitas pada Shelter/Halte dan Armada Bus Trans Jogja belum maksimal.
Setia Adi Purwanta, Ketua Komite Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Difabel DIY mengatakan Trans Jogja merupakan salah satu moda transportasi umum yang banyak digunakan oleh difabel.
Dari landasan tersebut, Komite Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Difabel DIY pada 10 Oktober dan 26 Oktober 2017 melakukan pemantauan di 11 Shelter/Halte dan Bus Trans Jogja.
"Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana aksesibilitas bagi difabel pada Shelter/Halte dan Bus Trans Jogja," kata Setia dalam forum pemaparan hasil tersebut.
Adapun aspek yang dipantau meliputi ketersediaan guiding block menuju Shelter, kesesuaian ukuran ramp, handrail, tangga, pintu halte, informasi halte dan jalur baik audio dan visual.
Sedangkan, aksesibilitas yang dipantau di Bus Trans Jogja meliputi pintu masuk bus, ketersediaan ruang khusus kursi roda, tempat duduk prioritas, Informasi jalur, informasi lokasi baik audio dan visual, dan Informasi nomor aduan.
Melalui pemaparan tersebut diketahui dari 11 Shelter, hanya ada satu yang terdapat guiding block dan juga salah satu sisi tertutup oleh Pedagang Kaki Lima (PKL).
Selanjutnya, hampir 90% sudah ada Ramp, tetapi masih terlalu curam sehingga jauh dari standar.
Khusus Handrail, ada 10 halte yang bisa dimanfaatkan, tetapi ada satu halte yang hanya memiliki setengah pegangan.
Aspek berikutnya, tangga sudah ada di sembilan halte, tetapi hanya satu yang memenuhi standar yakni 15-17 cm, sisanya rata-rata sekitar 20 cm ke atas.
Aspek selanjutnya pintu halte, untuk pintu halte ukurannya dinilai masih terlalu sempit, kurang dari 90 cm, dari hasil pantauan rata-rata hanya sekitar 80 cm.
Selanjutnya mengenai informasi audio/visual, rata-rata informasi audio visualnya tidak menampilkan informasi yang dibutuhkan.
Untuk armada Bus Trans Jogja yang baru, sudah terdapat kursi prioritas, ruang untuk kursi roda, dan nomor aduan.
Namun, untuk informasi audio-visualnya masih tidak menampilkan informasi jalur/tujuan.
Lalu, rata-rata jarak berhenti bus di halte juga masih terlalu lebar, sekitar 40-50 cm.
Serta untuk petugasnya sendiri sudah siap membantu jika ada difabel yang membutuhkan bantuan, hanya saja masih ada hambatan cara menuntun tuna netra dan berkomunikasi langsung dengan difabel rungu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/paparan-difabel-halte-trans_20171109_150347.jpg)