Hasil Survey Jaringan Gusdurian : Generasi Muda Memiliki Potensi Intoleran Paling Tinggi
Kegiatan ini digelar di Hotel Jayakarta, Senin (6/11/2017), dan dihadiri oleh tokoh lintas agama dan kalangan akademisi.
Penulis: Rizki Halim | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rizki Halim
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Acara diskusi yang diprakarsai oleh Jaringan Gusdurian dan difasilitatori oleh putri dari Gus Dur, Alissa Wahid, membahas tentang isu intoleran yang semakin merebak belakangan ini.
Kegiatan ini digelar di Hotel Jayakarta, Senin (6/11/2017), dan dihadiri oleh tokoh lintas agama dan kalangan akademisi.
Di awal acara diskusi, langsung dipaparkan hasil survei yang dilakukan oleh Jaringan Gusdurian bahwa semakin muda usia, maka semakin tinggi tingkat intoleran yang dilakukan.
"Sikap intoleran sudah menjadi makanan sehari-hari akhir-akhir ini," ujar Alissa Wahid saat membuka diskusi.
Jaringan Gusdurian melakukan pengamatan melalui platform media sosial yang dekat dengan remaja sekarang ini.
Hasilnya banyak ditemukan sentimen negatif terhadap agama tertentu dan menganggap agama selain agama yang dianutnya adalah musuh.
Tidak hanya beda agama saja, bahkan dengan agama yang sama namun berbeda aliran para intoleran juga menganggap musuh yang harus dilawan.
Survei juga menunjukkan, hasil tertinggi bahwa tempat dimana orang-orang belajar agama adalah keluarga.
Selain keluarga, para remaja juga biasanya mendapatkan paham-paham tersebut melalui organisasi-organisasi yang berada di lembaga pendidikan.
Bahkan yang menyedihkan, beberapa narasumber mengatakan bahwa sudah ada doktrin khilafah sejak di tingkat taman kanak-kanak.
Khilafah sendiri merupakan ajaran ekstrim yang dengan mudah ya mengkafirkan seseorang atau mengharamkan sesuatu.
Organisasi penganut khilafah, HTI bahkan baru-baru ini dibubarkan oleh pemerintah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/diskusi-gusdurian_20171106_234243.jpg)