Lipsus Tribun Jogja

Trend Ngopi di Yogyakarta, Minum Kopi Layaknya Sebuah Pengalaman Kecil

Walaupun dari daerah yang sama, rasa kopi bisa berbeda di tangan petani satu dengan yang lain.

Trend Ngopi di Yogyakarta, Minum Kopi Layaknya Sebuah Pengalaman Kecil
Tribun Jogja/ Pradito Rida Pertana
Ribuan orang memadati pedestrian Malioboro untuk mengikuti gelaran Malioboro Coffee Night, di acara yang juga dalam rangka menyambut HUT ke-261 Kota Yogyakarta ini disediakan 10 ribu gelas kopi dari 40 tennant yang ikut dalam gelaran tersebut. Nampak ribuan orang rela mengantre untuk mendapatkan kopi gratis dari berbagai daerah di Indonesia. Senin (2/10/2017). 

TRIBUNJOGJA.COM - Menikmati kopi lokal Nusantara juga memiliki sensasi tersendiri bagi Meiandre Redhi, seorang fotografer kegiatan dan pernikahan di Yogyakarta.

Ketertarikannya pada kopi sudah dimulai sejak tahun 2011, ketika bergelut di unit kegiatan mahasiswa (UKM) fotografi kampus.

“Saat itu saya hanya minum kopi pabrikan biasa. Sampai suatu saat, oleh teman yang berprofesi sebagai barista, saya disuguhi Kopi Sidikalang. Sejak saat itu pandangan saya tentang kopi berubah. Kopi tidak melulu pahit,” ujar Andre.

Bagi pria yang akrab disapa dengan Jambul ini, kopi bisa menjadi petualangan kecil. Walaupun dari daerah yang sama, rasa kopi bisa berbeda di tangan petani satu dengan yang lain.

Hal ini karena proses washing (pencucian), roasting atau sangrai, dan cara penyeduhan juga memengaruhi rasa akhir dari biji kopi.

“Orang-orang sering mengatakan, menyeduh kopi adalah seni, tapi bagi saya ini sebuah petualangan. Hasilnya berbeda-beda, tapi prosesnya itu yang asyik,” ulas pecinta Kopi Sidikalang dan Wamena ini.

Untuk bisnis fotografinya, kopi bisa menjadi pembuka perbincangan yang mengasyikkan saat bertemu relasi bisnis.

Utamanya, relasi yang juga merupakan penggemar kopi. Deal bisnis pun terkadang terjadi di kedai kopi, meski tidak semuanya terjadi di tempat tersebut.

“Yang terpenting, bagi saya ngopi bisa membantu mengusir penat saat bekerja, terutama bila diminum di jam-jam tidak produktif. Saya sering membawa kopi di dalam tas, karena tidak jarang saya harus berpindah dari ke studio ke co-working space,” paparnya.

Festival kopi

Dia pun melihat menjamurnya kedai kopi di Yogyakarta dan minat anak muda yang tinggi untuk minum kopi.

Selain itu, penyelenggaraan festival minum kopi di Malioboro juga cukup tinggi peminatnya. Hal ini, kata dia, tidak menutup kemungkinan Yogyakarta menjadi salah satu tujuan wisata kopi.

Ironisnya, dengan tingginya minat peminum kopi, Yogyakarta justru tidak punya kopi yang khas.

Sebenarnya, Yogyakarta memiliki beberapa kopi lokal dari lereng Merapi dan perbukitan Menoreh, namun sayang kualitasnya belum konsisten.

“Bisa karena terkendala lahan, sehingga kapasitas produksinya terbatas,” tuturnya. (*)

Penulis: sis
Editor: Muhammad Fatoni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved