KSPSL Angkat Poliemik Personal ke Ruang Publik

Mereka tidak memikirkan terlalu jauh apakah isu pribadi yang mereka angkat itu menjadi sesuatu yang bisa dipahami oleh para penontonnya atau tidak.

Penulis: abm | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
komunitas kolektif yang bergerak dibidang seni teater berasal dari Yogyakarta, Kolektif Sudah Pekak Sakit Lagi (KSPSL) mengangkat isu-isu personal dalam pertunjukan teaternya. 

TRIBUNJOGJA.COM -  Kolektif Sudah Pekak Sakit Lagi (KSPSL), sebuah nama yang rasanya bisa dianggap agak nyeleneh jika kita mengamati satu persatu kata yang tersemat di dalamnya.

Walau begitu, ternyata nama tersebut merupakan sebutan bagi sebuah komunitas kolektif yang bergerak di bidang seni teater berasal dari Yogyakarta, dan telah ada sejak tahun 2011 lalu.

Jika biasanya sebuah pertunjukan teater itu digelar dengan megahnya dalam sebuah panggung, atau bisa dikatakan menggunakan arena yang biasa digunakan untuk pertunjukan seni, KSPSL menabrak kebiasaan itu dengan memanfaatkan ruang-ruang yang dapat dikatakan sebagai public area untuk menghelat pertunjukannya.

Contohnya adalah di pinggir jalan, kedai kopi dan lainnya.

Dan hal itu pertama kali mereka wujudkan melalui karya bertajuk 'Mom' beberapa tahun silam.

Rendra Bagus Pamungkas, anggota KSPSL menuturkan, bila kebanyakan kelompok-kelompok teater yang tersebar di banyak daerah di Indonesia lebih konsen mengangkat isu kemasyarakat, politik dan lainnya, pihaknya lebih banyak mengangkat hal-hal yang bersumber pada polemik atau isu yang lebih personal.

Bisa dikatakan mereka banyak mengangkat hal-hal yang menjadi keresahan personal yang dialami oleh satu di antara anggotanya.

“Contohnya saja seperti karya berjudul 'Mom'. Di situ menceritakan tentang bagaimana aku yang biasanya mendapat banyak petuah dari orangtua, seperti petuah keagamaan, kultur, bermasyarakat dan lainnya. Lalu keluar rumah untuk merantau. Menurutku itu lebih menarik. Di perantauan aku jauh dari petuah-petuah itu. Hal itu sebagai persembahan mengingat apa yang diberikan orangtua kepadaku,” tutur Rendra kepada Tribunjogja.com beberapa waktu lalu.

“Mengantarkan nilai-nilai yang aku antarkan kembali. Karya ini menjadi langkah pertamaku membedah nilai-nilai yang ada di dalam diriku, mengingatkan kembali bahwa kita harus selalu punya pijakan. Pijakan kita adalah pijakan kultural, bukan budaya yang kita serap dari tempat yang kita datangi,” lanjutnya lagi.

Begitupun dengan berbagai pertunjukan yang KSPSL lainnya, Rendra menuturkan bahwa hal-hal yang mereka angkat membahas sesuatu yang bersifat polemik pribadi.

Mereka tidak memikirkan terlalu jauh apakah isu pribadi yang mereka angkat itu menjadi sesuatu yang bisa dipahami oleh para penontonnya atau tidak.

Yang terpenting adalah bagaimana hal-hal yang berasal dari hati itu bisa tercurah ke dalam sebuah bentuk karya pertunjukan.

“Sempat ada orang yang bertanya, apa pentingnya orang lain tahu isu itu (personal). Orang nggak perlu tahu, tapi buatku bagaimana memecahkan isu itu. Harapannya kita (pribadi) bisa mengambil nilai yang bisa dihadirkan di atas panggung. Di sana tidak ada yang dibuat-buat. Tentang isu kemasyarakatan dan politik, jujur saja kami juga nggak dekat. Isu yang kami bicarakan adalah isu yang dekat dengan kami, tidak mengada-ngada, jadi isinya ya begitu-begitu aja,” paparnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved