Rangkaian Upacara Adat Ki Ageng Wonolelo akan Digelar pada 13-28 Oktober 2017

Berbagai potensi budaya akan dipentasakan dalam upacara adat tersebut misalnya hadrah dan qasidah

Penulis: app | Editor: Ari Nugroho
Tribun Jogja/Angga Purnama
Ilustrasi: Ribuan warga memadati sebidang tanah lapang di samping kompleks makam Ki Ageng Wonolelo, di Dukuh Pondok, Widodomartani, Ngemplak, Jumat (28/11/2014) sore. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Rangkaian Upacara Adat Ki Ageng Wonolelo di Pondok Wonolelo, Widodomartani, Ngemplak, Sleman digelar 13 Oktober hingga 28 Oktober mendatang.

Upacara Adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo ini digelar sebagai upaya mengajak generasi muda untuk lebih memahami seni budaya yang adiluhung.

"Memberikan wahana bagi pertumbuhan kesenian rakyat serta menumbuhkan rasa handarbeni dan kecintaan terhadap seni budaya bangsa sendiri," jelas Ketua Panitia, Wartono, Kamis (12/10/2017).

Lanjut Wartono, acara ini juga diharapkan sebagai langkah dan upaya meningkatkan wisata budaya di Sleman, serta diharapkan pula dapat meningkatkan roda perekonomian masyarakat.

Dikisahkan Wartono, Jumadi Geno yang merupakan nama asli Ki Ageng Wonolelo adalah seorang keturunan Prabu Brawijaya V sekaligus sebagai tokoh penyebar agama Islam pada masa kerajaan Mataram.

Baca: Menelusuri Kisah Ki Ageng Wonolelo

"Ki Ageng Wonolelo bermukim di Dusun Pondok Wonolelo, memiliki ilmu kebatinan yang tinggi pada masa itu. Karena memiliki ilmu yang tinggi, ia pernah diutus Raja Mataram ke Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang saat itu membangkang terhadap Mataram," ceritanya.

Oleh karena memiliki ilmu yang tinggi, Ki Ageng Wonolelo mampu menaklukkan Kerajaan Sriwijaya.

Nama Ki Ageng Wonolelo atau Jumadi Geno semakin tersohor dari waktu ke waktu sehingga semakin banyak orang yang berdatangan untuk berguru dengannya.

"Sebagai seorang panutan Ki Ageng Wonolelo memiliki ilmu tinggi, Ki Ageng Wonolelo banyak mewariskan berbagai peninggalan yang berupa tapak tilas dan pusaka dan benda keramat lainnya. Pusaka, jimat dan berbagai benda keramat peninggalan Ki Ageng Wonolelo inilah yang kemudian dikirabkan setiap bulan Sapar pada setiap tahunnya," kisahnya.

Berbagai potensi budaya akan dipentasakan dalam upacara adat tersebut misalnya hadrah dan qasidah, srunthul, jathilan, orkes melayu, badui, angklung, sholawatan, karawitan, dan lain sebagainya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved