Breaking News:

Lezatnya Wingko Babat dari Pakem

Selain kelapa, bahan lain pun mudah didapatkan seperti gula, tepung ketan dan margarin. Dalam satu minggu dapat memproduksi sekitar 600 wingko babat.

TRIBUNJOGJA.COM / Arfiansyah Panji
Kreatifitas ibu-ibu kelompok wanita tani (KWT) Mekar Dusun Balong, Desa Pakembinangun, Pakem, Sleman patut diacungi jempol. Melimpahnya panen kelapa di wilayah tersebut, mereka manfaatkan menjadi olahan yang memiliki nilai jual lebih yaitu wingko babat. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kreatifitas ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Dusun Balong, Desa Pakembinangun, Pakem, Sleman patut diacungi jempol.

Melimpahnya panen kelapa di wilayah tersebut, mereka manfaatkan menjadi olahan yang memiliki nilai jual lebih yaitu wingko babat.

Siswanti (49), Ketua KWT Mekar menceritakan awal mula kelompoknya mengolah wingko babat dengan merek Ayu ini sejak tiga tahun lalu.

Sebelumnya di tahun 2014 kelompok tersebut telah mendapat pelatihan pengolahan makanan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman.

Mulai dari bakpia, brownis salak, manisan salak, dan wingko babat itu sendiri.

"Difasilitasi perindag pelatihan makanan lokal. Ada beberapa komoditas yang dicoba, anggota tertarik wingko babat dulu dilatih (membuat) bakpia, brownis salak, manisan salak. Yang dipilih wingko bahannya familiar dan lebih tersedia," jelasnya, Kamis (5/10/2017).

Jika sebelumnya kelapa hanya dijual per biji senilai Rp 3 ribu.

Kini satu biji kelapa bisa menghasilkan 20 biji wingko babat yang dijual Rp1.100 per bijinya.

Selain kelapa, bahan lain pun mudah didapatkan seperti gula, tepung ketan dan margarin.

Dalam satu minggu KWT Mekar dapat memproduksi sekitar 600 wingko babat.

"2 kg kelapa 1 kg, 1/2 kg tepung ketan 1/4 kg margarin itu menghasilkan 100 wingko babat. Dan kami kemas dengan satu kemasan berisi 10 biji wingko babat," ujarnya.

Lanjut Siswanti, wingo babat produksinya sejauh ini baru memiliki satu varian rasa yaitu kelapa.

Namun begitu, ia menjamin rasanya jauh lebih lezat karena tanpa menggunakan pengawet.

"Rasanya khas orang yang beli pada senang. Yang membedakan ini rasa kelapa, rasanya juga enak. Masih rasa kelapa belum ada varian lain," cetusnya.

KWT yang memiliki delapan anggota ini, selama ini memasarkan produknya melalui warung-warung dan Pasar Pakem.

Mereka juga menerima pesanan dalam jumlah besar, semisal untuk oleh-oleh maupun suguhan hajatan.

"Dua hari sekali produksi. Kadang sehari sekali tergantung permintaan," paparnya. (*)

Penulis: app
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved