Tombo Ati

Aku Termenung, Cucuran Tangisku Pecah. Loper Koran Ini Mengajariku Cara Bersyukur

Banyak orang bahwa mereka sebenarnya mendapat rezeki yang luar biasa banyaknya namun dalam bentuk lain.

Tayang:
net
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Rezeki dari Allah SWT tak selalu berwujud harta benda yang melimpah.

Banyak orang bahwa mereka sebenarnya mendapat rezeki yang luar biasa banyaknya namun dalam bentuk lain.

Tubuh yang sehat, anak-anak, istri yang soleh dan lainnya adalah rezeki yang sebenarnya lebih berharga dari materi.

Lantaran tak sadar betapa banyaknya rezeki dari Allah SWT, banyak diantara kita terkadang sampai lupa bersyukur.

Malahan, banyak diantara kita yang mengeluh dengan kondisi yang dialami.

Kisah seorang tukang koran ini bisa menjadi pelajaran bagaimana cara bersyukur kita menghadapi apapun.

Ya! Apapun kondisinya, kita harus selalu bersyukur agar nikmat yang diberikan Allah SWT semakin berlipat.

Berikut ceritanya:

Pagi itu seorang penjual Koran berteduh di tepi sebuah warung...
Sejak subuh hujan turun lebat sekali....

seakan menghalangi nya melakukan aktivitas utk berjualan koran seperti biasa.

Terbayang di fikiranku, tidak ada satu sen pun uang yang akan di peroleh seandainya hujan tidak berhenti.
Namun, ....kegalauan yang kurasakan ...

ternyata tidak nampak sedikitpun di wajah Penjual Koran itu.

Hujan masih terus turun.

Si penjual koran masih tetap duduk di tepi warung itu sambil tangannya memegang sesuatu. Tampaknya seperti sebuah buku. Kuperhatikan dari jauh, lembar demi lembar dia baca.

Awalnya aku tidak tahu apa yang sedang dibacanya. Namun perlahan-lahan ku dekati....

ternyata Kitab Suci Al-Quran yg dibacanya.

+ "Assalamu 'alaikum" ...

- “Wa'alaikumus salam"

+ “Bagaimana jualan korannya mas ?" ...

- “Alhamdulillah, ...

sudah terjual satu.”

+ “Susah juga ya, kalau hujan begini" ...

- “In shaa Allah sudah diatur rezekinya.”

+ “Terus, ....kalau hujannya sampai siang ?”

- “Itu berarti rezeki saya bukan jualan koran, tapi banyak berdoa.”

+ “Kenapa ?”

- “Bukankah Rasulullah SAW pernah besabda, ketika hujan adalah saat yang mustajab untuk berdoa. Maka, kesempatan berdoa itu adalah rezeki juga.”

+ “Lantas, kalau tidak dapat uang, bagaimana ?”

- "Berarti, rezeki saya adalah bersabar"

+ "Kalau tidak ada yg bisa dimakan ?" .....

- “Berarti rezeki saya berpuasa"

+ “Kenapa bisa berfikir seperti itu ?”

- “Allah SWT yang memberi kita rezeki.

Apa saja rezeki yang Allah berikan saya syukuri.

Selama berjualan koran.... walaupun tidak laku, dan harus berpuasa....

saya tidak pernah kelaparan" - kata-katanya ikhlas menutup pembicaraan

Sahabat ...

Hujan pun berhenti....

Si penjual koran bersiap-siap untuk terus menjajakan korannya.

Ia pergi sambil memasukkan Al-Quran ke dalam tasnya.

Aku termenung ...

tanpa kusadari ...

cermin mata ku menjadi gelap....

karena cucuran tangisku... Aku tersadar....

setelah aku merenungi setiap kalimat tausiah yang diucapkan penjual koran tadi...

Ada penyesalan di dalam hati....mengapa kalau hujan ada yg resah-gelisah....

Kuatir tidak mendapat uang....

Risau rumahnya akan terendam banjir.....

Bimbang tidak bisa datang ke kantor.. ..

Keluh kesah tidak bisa bertemu rekan bisnis.....

Kembali baru ku sadari,... Rezeki bukan saja uang...

Tetapi bisa dalam bentuk...hidayah.... kesabaran, ....berpuasa,..... berdoa, .....beribadah....
rasa syukur....

Semuanya merupakan amal sholeh yang perlu kita syukuri....yang juga merupakan rezeki dari Allah SWT. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved