Kivlan Zein Ajak Masyarakat Waspadai Bahaya Laten Komunis

Kivlan berpesan, agar bangsa Indonesia tidak boleh lengah, harus selalu waspada, karena ajaran dan penganut komunis berada dimana-mana.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
internet
Kivlan Zein 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Ribuan warga tampak memadati Gedung Prajurit dan Halaman Kodim 0705/Magelang pada Minggu (1/10/2017) malam.

Mereka dengan antusias mengikuti kegiatan 'Mengingat Sejarah Untuk Membuat Sejarah'.

Dalam kegiatan tersebut, selain dilangsungkan nonton bareng film Penghianatan G30S PKI, dihadirkan pula tokoh nasional Mayor Jenderal TNI (Pur) Kivlan Zein.

Ia didapuk memberikan paparan, terkait sejarah kelam yang menimpa bangsa Indonesia.

Didampingi komandan Kodim 0705/Magelang, Letkol Inf Hendra Purwanasari, Kivlan secara runut dan gamblang memaparkan perpecahan yang terjadi di Indonesia, akibat pergerakan PKI.

Ia mengaku tidak ingin peristiwa serupa kembali terjadi di tanah air.

"Tahun 1948, Indonesia pernah pecah, karena gerakan yang dipimpin Muso. Dengan kejamnya, Muso dan kelompoknya membantai para ulama dan santri di Jawa Timur. Dampaknya, Gubernur Suryo meninggal dunia waktu itu," ungkapnya.

Kivlan melanjutkan, sudah terbukti di berbagai negara, kalau komunis itu sangat berbahaya dan bandel, seperti yang terjadi di China, Korea Utara, maupun Kuba.

Ia mengalami dan merasakan betul, sehingga terpupuk kewaspadaan akan bahaya laten komunis.

"Lagu Indonesia Raya sangat menyentuh hati saya. Apapun kondisinya, saya akan membela negara Indonesia," ungkap mantan Kas Kostrad itu.

Kivlan selanjutnya memaparkan sejarah kelam mulai dari tahun 1948, hingga terjadinya pemerontakan PKI dalam peristiwa G30S.

Meski kejadian itu sudah sangat lama, munculnya bahaya laten komunis harus tetap diwaspadai, ditekan dan dilawan oleh anak bangsa.

Menurutnya, ideologi komunis yang sudah merasuk pada para penganutnya, merupakan suatu ancaman serius.

Di hadapan ribuan hadirin, Kivlan berpesan, agar bangsa Indonesia tidak boleh lengah, harus selalu waspada, karena ajaran dan penganut komunis berada dimana-mana.

Ia menambahkan, dewasa ini, kaum komunis sudah berani terang-terangan mengenakan atributnya.

Bahkan, lanjutnya, mereka tanpa sungkan, meminta dan mengupayakan, supaya TAP MPRS No XXV Tahun 1966 bisa dicabut.

"Hari ini kita sudah tahu sejarah. Pasang mata, pasang telinga, mereka memasang atribut, melaksanakan rapat. Tangkap, serahkan ke polisi," tegasnya.

Mengakhiri paparan sejarahnya, Kivlan mengajak masyarakat untuk melihat secara utuh film Penghianatan G30S PKI, agar mengerti betapa kejamnya PKI.

Terutama bagi remaja yang belum pernah menonton, lantaran sejak Soeharto lengser film tidak pernah lagi diputar secara masal.

"Satu catatan, yang harus diwaspadai dari komunis, antara lain agitasi, propaganda dan fitnah," pungkasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved