Biotilik untuk Mengetahui Tingkat Pencemaran Sungai, Ini Penjelasannya

Secara garis besar, metode ini memantau keberadaan makroinvertebrata misalnya serangga air, udang dan cacing sebagai indikator.

Biotilik untuk Mengetahui Tingkat Pencemaran Sungai, Ini Penjelasannya
TRIBUNJOGJA.COM / Susilo Wahid
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Yogyakarta, Halik Sandera (kanan) dan Endang Rohjiani selaku Ketua Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) (kiri) saat memberikan keterangan soal kegiatan pemantauan air Sungai Winongo dalam Jumpa Pers di Kantor WALHI, Sabtu (30/9/2017). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Metode Biotilik akan dipakai dalam kegiatan pemantauan kualitas Sungai Winongo oleh WALHI Yogyakarta dan FKWI, Minggu (1/10/2017) pagi esok.

Secara garis besar, metode ini memantau keberadaan makroinvertebrata misalnya serangga air, udang dan cacing sebagai indikator. 

Direktur Eksekutif WALHI Yogyakarta, Halik Sandera mengatakan, ada beberapa biota yang bisa dijadikan indikator kualitas air dalam sungai seperti ikan, alga, bakteri, plankton dan makroinvertebrata.

"Khusus pemantauan Biotilik besok kita akan pakai hewan makroinvertebrata ini, kata Halik, Sabtu (30/9/2017).

Ada 92 jenis hewan makroinvertebrata yang masuk dalam catatan WALHI.

Baca: Bermaksud Cari Ikan, Remaja 15 Tahun Malah Tenggelam di Sungai Winongo Yogya

Hewan-hewan tersebut diklasifikasikan ke empat kategori yaitu sangat sensitif, sensitif, toleran dan sangat toleran.

Masing-masing kategori ini akan mewakili sejauh mana tingkat tercemar atau tidaknya aliran sungai. 

Sebagai contoh, ketika masih ditemukan udang maka aliran sungai di sekitarnya masih punya kualitas bagus karena udang masuk kategori sensitif terhadap pengaruh pencemaran.

Larva lalat juga sensitif, jadi kalau masih ditemukan berarti air sungai di sekitarnya masih bagus. 

Tapi beda jika tidak ditemukan udang, larva lalat atau hewan sensitif lainnya yang bisa berarti air sungai tersebut tercemar.

"Misal tidak ada udang tapi ada cacing dan larva nyamuk, berarti aliran sungai sekitar tercemar, karena cacing dan larva nyamuk toleran terhadap pencemaran," kata Halik. 

Sementara itu Endang Rohjiani selaku Ketua FKWA mengatakan jika dalam teknisnya nanti para relawan yang turun ke sungai dibekali dengan beberapa peralatan pendukung seperti jaring dan kaca pembesar untuk mempermudah pengambilan hewan dan pengamatan makluk hidup di sungai. 

Hewan yang ditemukan nanti akan dicocokan dengan data yang sudah ada lalu diolah untuk kemudian diambil kesimpulan.

"Makin banyak hewan makroinvertebrata yang ditemukan makin baik, karena mempermudah analisis kita tentang kondisi air sungai," kata Endang. (TRIBUNJOGJA.COM)

 
 

Penulis: Susilo Wahid Nugroho
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved