Breaking News:

Allisa Wahid : Zaman Gusdur, Film itu Tidak Wajib Diputar, Tapi Juga Kemudian Tidak Dilarang

Pada zaman Orde Baru, film Pengkhianatan G30S PKI wajib ditonton setiap tanggal 30 September, yang digunakan sebagai alat propaganda.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Ari Nugroho
internet
Film G30 S PKI 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Azka Ramadhan

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Puteri mendiang Presiden Ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Alissa Wahid, menyatakan pendapatnya soal kontroversi soal film Pengkhianatan G30S PKI, yang belakangan menyeruak kembali di tengah-tengah masyarakat.

"Menghormati hak warga negara yang menonton, mau mengkritisi (filmnya), maupun mengkritisi yang menonton, itu hak warga negara juga," ujarnya, saat ditemui setelah menjadi pembicara dalam diskusi Sembilan Pemikiran Gus Dur, di Gedung Pelayanan Pastoral St Ignatius, Kota Magelang, Rabu (20/9).

Ia mengatakan, pada zaman Orde Baru, film Pengkhianatan G30S PKI wajib ditonton setiap tanggal 30 September, yang digunakan sebagai alat propaganda.

Namun, setelah berakhirnya rezim tersebut, 'kewajiban' itu pun lantas dihilangkan, dengan berbagai pertimbangan.

Baca: Film G30S/PKI Akan Diputar Hingga di Balai Desa

"Film itu pada zaman Gus Dur tidak (wajib diputar), tapi juga tidak kemudian dilarang, ya biasa saja," jelasnya.

Alissa menilai, membicarakan masalah 65 di Indonesia, sarat dengan sentimen politik.

Menurutnya, pada masa awal Reformasi, disadari betul adanya belokan-belokan sejarah yang belum terang.

Alternatif pemahaman sejarah, imbuhnya, kemudian berkembang dengan pesat.

"Sekarang, persoalannya karena ada sentimen-sentimen politik yang dilekatkan pada film itu. Kalau Gusdurian mau memutar film (film Pengkhianatan G30S PKI), saya tidak terlalu khawatir, karena justru akan mengkritisi. Pasti akan mengkritisi," tandasnya.

Lanjut Allisa, Gus Dur melihat persoalan 65, layaknya setiap bangsa akan menjalani sejarahnya, yang dipastikan terdapat belokan-belokan tertentu.

"Belokan ini kadang-kadang salah. Nah, 65 itu belokan yang salah bagi bangsa Indonesia. Karena itu, Gus Dur mendorong rekonsiliasi. Rekonsiliasi kultural, mencari kejelasan dan saling memaafkan," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved