Petani Cabai di Gunungkidul Keluhkan Penurunan Panen Cabai

Saat musim kemarau ini petani hanya mampu memanen sebanyak 60 kilogram cabai dalam sekali panen.

Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Petani cabai di Desa Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul sedang menyirami kebun cabai miliknya, Senin (18/9). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Petani cabai di Desa Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul mengeluhkan kondisi kekeringan yang menyebabkan tanaman cabai miliknya mati karena kekurangan air.

Kondisi ini diperparah dengan harga jual cabai yang anjlok.

Seorang petani di Desa Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul, Wito Mulyo Kasimin menceritakan, banyak tanaman cabai miliknya yang mati dan mengering karena kekurangan air.

Kondisi ini sudah terjadi semenjak sebulan yang lalu.

Saat musim kemarau ini petani hanya mampu memanen sebanyak 60 kilogram cabai dalam sekali panen.

Padahal pada hari-hari biasa, dirinya dapat memperoleh dua kuintal cabai dalam sekali panen.

"Jumlah panen kami sangat turun, banyak tanaman yang mati karena kekurangan air. Kondisinya sangat kering saat ini, jumlah panen pun menurun," ujar Wito, Senin (18/9).

Wito pun sangat kesulitan mencari sumber air untuk mengairi tanamanya.

Dia terpaksa membeli air bersih dari pihak swasta seharga Rp 60 ribu untuk satu jam peyiraman air atau membeli dari tangki air bersih seharga Rp 120 ribu untuk satu tangki kapasitas 5 ribu liter air.

"Kami terpaksa membeli air, untuk mengairi tanaman kami yang mulai kering. Harganya pun cukup mahal, karena sekali siram bisa Rp 60ribu, padahal sebulan bisa empat-lima kali penyiraman," ujarnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved