ISI Yogyakarta Gelar 24 Jam Menabuh

Jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta akan mengadakan kegiatan 24 Jam Menabuh dengan tema 'Sounds of the Universe'.

Penulis: dnh | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Dwi Nourma Handito

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta akan mengadakan kegiatan 24 Jam Menabuh dengan tema 'Sounds of the Universe'.

Kegiatan ini akan dilaksanakan selama dua hari pada 5 September hingga 6 September 2017.

Selama 24 Jam nantinya gamelan akan terus ditabuh secara non stop oleh peserta yang berjumlah 29 kelompok karawitan.

29 kelompok tersebut terdiri dari 5 kelompok profesional dan berapa kelompok lain baik itu kelompok anak-anak, wanita, UKM Perguruan Tinggi dan lainnya.

"Yang akan ditampilkan adalah grup grup terbaik," kata Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta, Prof Yudi Aryani, Rabu (30/8/2017).

24 Jam Menabuh akan digelar di dua tempat yakni Concert Hall ISI Yogyakarta dan Pendapa Jurusan Karawitan FSP ISI dan direncanakan akan dibuka oleh Sri Sultan HB X dan dimulai pukul 20.00 dan akan selesai pada jam yang sama keesokan harinya.

Dipilihnya tanggal 5 September adalah sebagai upaya napak tilas diluncurkannya pesawat tanpa awak Voyager oleh NASA.

Dimana Voyager membawa musik dari seluruh dunia sebagai pesan atau media untuk menjalin kontak dengan mahluk lain yang kemungkinan hidup di luar bumi.

Salah satu yang dibawa oleh Voyager tersebut adalah gending Puspawarna yang diciptakan oleh Mangkunegaran IV, dan kemudian direkam di Puro Pakualaman pada 1971.

Acara serupa sebenarnya pernah digelar oleh ISI Yogyakarta pada 2012 lalu dan saat itu mendapatakan penghargaan rekor MURI sebagai pagelaran karawitan terlama.

Diagendakan acara ini menjadi acara tahunan ISI Yogyakarta dan bisa meningkatkan ketrampilan seni dari mahasiswa dan meningkatkan keilmuan karawitan.

Sementara itu Dr Raharjo, Art Director yang juga dosen Karawitan ISI acara ini mengatakan digelarnya acara ini berangkat dari keprihatinan atas kondisi karawitan saat ini.

Kehidupan karawitan masih ada namun sudah sangat menurun.

Padahal dulu pernah mengalami masa kejayaan.

"Ini bentuk bahwa kita masih ada, masih hidup. Karawitan masih ada dan mengupayakan kehidupan itu," katanya.

Acara 24 Jam Menabuh ini tebuka untuk dan bisa dihadiri oleh masyarakat umum.

Nantinya Gending Puspawarna juga akan dimainkan dalam acara ini, selain juga masih banyak gending yang lainnya yang akan dimainkan selama 24 jam non-stop. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved