Lipsus Tribun Jogja

Sisi Lain Perang Kemerdekaan di Yogya : Slamet Sembunyi di Bawah Amben Hindari Kejaran Belanda

Catatan itu mulai ditulis pada 20 Maret 2012 di buku besar ukuran folio bersampul motif batik.

Sisi Lain Perang Kemerdekaan di Yogya : Slamet Sembunyi di Bawah Amben Hindari Kejaran Belanda
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Buku harian Slamet Soemarwan dan peralatan radio komunikasi yang tersimpan di rumahnya 

TRIBUNJOGJA.COM - Sisi lain dari kisah Perang Kemerdekaan yang pecah di Yogyakarta terekam dalam sebuah catatan harian seorang pejuang. Catatan ini ditulis oleh almarhum Kapten (Pnb) Slamet Soemarwan Praptosardjono.

Catatan itu mulai ditulis pada 20 Maret 2012 di buku besar ukuran folio bersampul motif batik. Slamet mengawali catatan harian dengan pengantar yang menjelaskan mengapa ia menuangkan kisah hidupnya dalam cerita tertulis.

"Ide menulis datang dari imbauan Bapak Ollot (almarhum Ollot Sajiman, tokoh Polisi Istimewa Brimob yang terlibat pertempuran Kotabaru)," tulis Slamet mengawali kisahnya.

Ollot Sajiman semasa hidup juga tokoh sepuh dan pengayom anggota Wehrkreise III. Apa yang tertuang dalam buku harian tersebut diperoleh Tribun Jogja dari penuturan Sri Wahyuningsih atau Yayuk, putri Slamet yang ditemui di Jalan Cuwiri, Jogokaryan. Sri Wahyuningsih adalah putri ketiga veteran spesialis radio komunikasi itu.

"Sejak dulu bapak itu tekun mencatat kegiatan harian, sampai detil apa saja yang dikerjakan dan waktunya. Catatan harian perjuangannya ini juga ditulis menjelang akhir hayat beliau," kata Yayuk kepada Tribun Jogja.

Menyimak buku harian kisah perjuangan Slamet Soemarwan, seolah seperti masuk lorong waktu dan kembali ke suasana zaman ketika Kemerdekaan RI diproklamasikan. Ketika Proklamasi 17 Agustus 1945, Slamet Soemarwan berusia 18 tahun.

Buku harian Slamet Soemarwan dan peralatan radio komunikasi yang tersimpan di rumahnya
Buku harian Slamet Soemarwan dan peralatan radio komunikasi yang tersimpan di rumahnya (Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo)

Ia lahir di Solo, 27 November 1927, kemudian dibesarkan di keluarga kakak ayahnya di Laweyan. Pakdhenya seorang lurah dan abdi dalem Kasunanan Surakarta, ketika itu dipimpin Susuhunan Paku Buwono X.

Slamet mencicipi pendidikan di Sekolah Rakyat sebelum melanjutkan ke Sekolah Dagang Rendah di Kepunton, Solo. Kemudian masuk Sekolah Teknik Pertukangan di zaman Jepang. Ketika Bung Karno-Bung Hatta memproklamasikan Kemerdekaan RI, Slamet bergabung ke Tentara Pelajar.

Halaman
Penulis: xna
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved