Lipsus Tribun Jogja

'Ribuan Orang Datang Memekikkan Kata Merdeka', Ini Kisah Keberanian Warga Jogja Rebut Gedung Agung

Jepang ngotot, kita pun juga ingin segera berkibar. Sama-sama emosi akhirnya berantem, tonjok-tonjokan di dalam. Saya langsung lari keluar gedung

'Ribuan Orang Datang Memekikkan Kata Merdeka', Ini Kisah Keberanian Warga Jogja Rebut Gedung Agung
Tribun Jogja/Hasan Sakri
Samdi (91), pejuang kemerdekaan yang ikut merebut Gedung Agung dari Jepang. 

"Ketemulah tempat duduk wasit di lapangan tenis sebelah utara gedung. Itu yang dipakai memanjat hingga bendera Hinomaru diturunkan dan merah putih dikibarkan," ungkap bapak enam anak ini.

Berhasil menurunkan bendera Hinomaru dan mengibarkan merah putih di Gedung Agung, massa kemudian bergerak ke Gedung Nelme (sekarang BNI) di selatan Gedung Agung.

Nelme itu dulu dipakai stasiun pemancar.

Di tempat itu, bendera Jepang juga diturunkan. Massa terus bergeser ke Kantor Pos Besar. Sama, massa menurunkan Hinomaru.

Berikutnya massa menuju Malioboro, melintasi Kleringan, tujuan ke pusat administrasi Jepang di Kotabaru.

Menurut Mbah Samdi, sepanjang momen 21 September 1945 itu tidak ada insiden kontak tembak apapun. Pasukan Jepang membiarkan massa rakyat bergerak.

Namun, sesudah massa meninggalkan Gedung Agung dan sekitarnya, ada cerita bendera Hinomaru dikibarkan kembali.

Sehingga siangnya massa kembali datang menggeruduk ke Tyookan Kantai, menurunkan bendera Jepang, dan memaksa merah putih kembali berkibar.

Beberapa nama tokoh pemuda/pemudi yang ambil bagian pada aksi berani ini antara lain Slamet, Sultan Ilyas, Sapardi, Rusli, dan Siti Ngaisah.

Barisan Polisi Istimewa, sekarang Pelopor atau Brimob atau Mobrig, punya andil besar di rentetan kejadian ini.

Polisi Istimewa ini sengaja dibentuk Jepang, dipersenjatai, dan diharapkan jadi kekuatan lokal penopang kekuasaan Jepang di wilayah jajahan.

Kelompok bersenjata ini dulu bermarkas di daerah Gayam.

Karena ikut andil dalam peristiwa 21 September 1945, Jepang melucuti senjata Polisi Istimewa, dan mengandangkan senjatanya di markas Jepang di gudang Kotabaru.

Peristiwa ini memicu aksi terbuka, dan pada 23 September 1945, gudang senjata Jepang dikepung.

Upaya ini membuahkan hasil. Senjata Polisi Istimewa itu bisa direbut kembali tanpa pertumpahan darah, dan jadi modal besar untuk perlawanan berikutnya yang berpuncak pada peristiwa 5-6-7 Oktober 1945.

Sebelumnya pada 26 September 1945, aksi mogok dilakukan pegawai lokal pemerintah dan perusahaan Jepang.

Mereka memaksa penyerahan semua kantor ke pihak Indonesia.

Komite Nasional Indonesia (KNI) Yogyakarta menyokong gerakan ini.

Menurut Mbah Samdi, suasana revolusioner pada hari-hari itu sangat terasa. Penculikan dan pembunuhan orang Jepang dilakukan sporadis di banyak tempat.

Halaman
1234
Penulis: xna
Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved