Lipsus Tribun Jogja

'Ribuan Orang Datang Memekikkan Kata Merdeka', Ini Kisah Keberanian Warga Jogja Rebut Gedung Agung

Jepang ngotot, kita pun juga ingin segera berkibar. Sama-sama emosi akhirnya berantem, tonjok-tonjokan di dalam. Saya langsung lari keluar gedung

'Ribuan Orang Datang Memekikkan Kata Merdeka', Ini Kisah Keberanian Warga Jogja Rebut Gedung Agung
Tribun Jogja/Hasan Sakri
Samdi (91), pejuang kemerdekaan yang ikut merebut Gedung Agung dari Jepang. 

Samdi juga bersedia berbagi sepenggal kisah perjuangannya kepada Tribun Jogja.

Saat ditemui di rumahnya di Kampung Juminahan, Selasa (15/8) malam, Samdi pun bersedia membagikan kisah heroik saat ia bersama rakyak Yogya berusaha mengibarkan merah putih di gedung Agung.

Ia mengatakan, kisah tersebut tidak terjadi sekira sebulan setelah proklamasi kemerdekaan.

Menurutnya, meski Bung Karno dan Bung Hatta sudah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, namun secara faktual, bala tentara Jepang masih berkuasa di Yogya.

"Perlawanan sporadis sudah terjadi, tapi sangat terbatas karena kita tidak punya banyak senjata. Bala tentara Jepang masih menguasai wilayah, meski sudah mendengar pusat menyatakan kalah perang," lanjut Mbah Samdi yang ketika itu mengaku berusia 17 tahun.

Samdi (91), pejuang kemerdekaan yang ikut merebut Gedung Agung dari Jepang.
Samdi (91), pejuang kemerdekaan yang ikut merebut Gedung Agung dari Jepang. (Tribun Jogja/Hasan Sakri)

Sebulan setelah proklamasi, lanjutnya, pada 21 September 1945, ia mengaku tergabung dalam aksi rakyat mengepung Gedung Agung.

"Massa mengepung Gedung Agung mulai pukul sepuluh pagi. Ribuan orang datang memekikkan kata "merdeka"," ujar Mbah Samdi di rumahnya.

Kala itu, Samdi memimpin Seinendan, barisan pelajar SMP yang mendapat pelatihan militer dari Jepang.

Massa yang datang datang dari beragam kelompok. Ada Keibodan, Fujinkai, Hizbullah, Anshor, dan barisan-barisan pemuda rakyat berbagai wilayah.

Tujuannya satu, yaitu menurunkan Hinomaru, bendera Jepang yang masih berkibar di Gedung Agung yang saat itu jadi kantor Koochi Zimmukyoku Tyookan, penguasa tertinggi Jepang di Yogyakarta.

Kala itu Gedung agung dinamai Tyookan Kantai.

Saat itu, tentara Jepang berjaga di sekeliling gedung sembari mengacungkan senapan berbayonet.

Massa rakyat berhadap-hadapan dengan pasukan yang sangat terlatih.

Samdi (91), pejuang kemerdekaan yang ikut merebut Gedung Agung dari Jepang.
Samdi (91), pejuang kemerdekaan yang ikut merebut Gedung Agung dari Jepang. (Tribun Jogja/Hasan Sakri)

Perwakilan massa yang menyebut dirinya barisan berani mati masuk untuk bernegosiasi, termasuk dirinya.

Mbah Samdi mengaku ikut menyaksikan negosiasi agar bendera merah putih dikibarkan di Gedung Agung mulai hari itu juga.

Namun permintaan rakyat Yogya tersebut ditolak pimpinan Koochi Zimmukyoku Tyookan karena belum ada instruksi dari pimpinan yang lebih tinggi.

"Mereka bilang merah putih boleh berkibar, tapi di rumah masing-masing. Kita menolaknya, dan ingin Hinomaru segera diturunkan," kata Mbah Samdi yang fasih berbahasa Jepang. Ia menceritakan detik-detik negosiasi itu sebagian dalam bahasa Jepang.

Karena tidak segera ada titik temu, buntulah perundingan.

"Jepang ngotot, kita pun juga ingin segera berkibar. Sama-sama emosi akhirnya berantem, tonjok-tonjokan di dalam. Saya langsung lari keluar gedung," beber Mbah Samdi yang lahir 7 Juli 1928 ini.

"Saya minta bantuan, dan teriak-teriak di dalam sedang berantem. Akhirnya ribuan orang serempak histeris menerobos masuk. Tak sampai lima menit, semua area gedung dipenuhi rakyat," sambung pria kelahiran Kampung Juminahan, Danurejan ini.

Massa kemudian mencari jalan supaya bisa bendera Jepang bisa diturunkan. Karena nempel di dinding gedung, ada yang cari alat.

Halaman
1234
Penulis: xna
Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved