Lipsus Tribun Jogja

Para Veteran Masih Tetap 'Perkasa' Meski Lanjut Usia

Menjaga semangat para veteran pejuang kemerdekaan yang masih hidup jadi salah satu agenda Paguyuban Wehrkreis 3 Yogyakarta (PWK 3)

Para Veteran Masih Tetap 'Perkasa' Meski Lanjut Usia
Tribun Jogja/Hasan Sakri
Samdi (91), pejuang kemerdekaan yang ikut merebut Gedung Agung dari Jepang. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menjaga semangat para veteran pejuang kemerdekaan yang masih hidup jadi salah satu agenda Paguyuban Wehrkreis 3 Yogyakarta (PWK 3).

Perkumpulan ini juga menjembatani silaturahmi anak keturunan anggota PWK 3 yang sudah meninggal dunia.

Tokoh utama Wehrkreis 3 pada waktu lalu adalah Soeharto, yang kemudian jadi Presiden RI.

Menurut Supeni SE, Sekretaris PWK 3 Yogyakarta, kegiatan rutin mereka antara pertemuan anggota triwulanan. Biasanya dilaksanakan Januari, Maret, Juni, September.

"Namun karena menyesuaikan kondisi di lapangan, kadang pelaksanaannya berubah-ubah," kata Supeni pekan lalu. Salah seorang veteran pejuang yang masih aktif ikut perkumpulan adalah Mbah Samdi (91).

Di kalangan anggota PWK 3, Mbah Samdi merupakan sesepuh dan satu dari sangat sedikit veteran pejuang kemerdekaan yang masih hidup dan memorinya kuat sehingga jadi rujukan cerita sejarah perjuangan 45.

Sebelumnya ada Kapten (Purn) Slamet Soemarwan, veteran Korps Perhubungan, yang juga aktif berkegiatan.

Namun beberapa tahun lalu meninggal karena usianya yang sudah sangat sepuh.

Kesaksian Mbah Samdi tentang perjuangan merebut kemerdekaan bisa dibaca pada liputan khusus sebelumnya di koran ini. Begitu juga testimoni heroik almarhum Slamet Soemarwan yang terbaca dari buku hariannya.

Masih menurut Supeni sebagai generasi penerus pejuang, pertemuan para sesepuh dan keluarganya dilaksanakan di Aula TMPN Kusumanegara Yogyakarta atas izin Dinas Sosial DIY.

"Kami juga bekerjasama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta terkait acara misalnya peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Plaza Museum Benteng Vredeburg setiap 1 Maret dan peringatan Yogja Kembali 29 Juni 1949," lanjutnya.

Di mata Supeni dan Rosa Stevani, anggota PWK 3 yang cucu seorang veteran pejuang, para sesepuh yang rajin ikut kegiatan punya semangat luar biasa.

Bahkan ada kalanya ketika digelar kegiatan napak tilas, mereka berusaha sekuat tenaga ikut jalan kaki jarak jauh, di medan yang tidak semuanya mudah.

"Pernah kita napak tilas ke daerah Turi, Sleman, yang dulu jadi basis Wehkreis 3, simbah-simbah itu jalan kaki di perbukitan. Jauhnya hampir dua kilomete," kenang Peni, sapaan akrab pegiat sejarah kemerdekaan ini.

Namun, seiring pertambahan usia dan kondisi fisik yang makin ringkih, banyak veteran pejuang yang mulai jarang ikut kegiatan fisik. Sebagian mereka juga tutup usia.

Beberapa spot kegiatan napak tilas yang dituju antara lain Monumen Radio AURI di Playen, Gunungkidul, Monumen Serut, Monumen Tegal Arum, Monumen Kuda, Monumen Ngotho, Museum Memorial Jenderal Suharto. (xna)

Penulis: Setya Krisna Sumargo
Editor: Ikrob Didik Irawan
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved