Breaking News:

Dinas PUP-ESDM Dilaporkan Warga Terkait Jual-Beli Pasir, ORI DIY Coba Konfrontir

Konfrontasi dilakukan bila ada temuan data yang kuat diantara kedua belah pihak, sehingga harus dilakukan pertemuan untuk saling mengklarifikasi.

Penulis: gil | Editor: oda
tribunjogja/anasapriyadi
Aktivitas tambang pasir. (ilustrasi) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Konfrontasi antara pelapor dengan terlapor di Kantor Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIY gagal terlaksana pada Kamis (3/8/2017).

Sebelumnya, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan, Energi dan Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) dilaporkan oleh warga ke ORI DIY karena ada dugaan penjualan pasir hasil kerukan revitalisasi sungai.

Namun konfrontasi atau pertemuan klarifikasi antara pelapor yang merupakan warga Sidomulyo, Bambnglipuro, Bantul dengan Dinas PUP ESDM tidak berjalan semestinya lantaran pelapor tidak datang. Sehingga konfrontasi ditunda hingga minggu depan.

Asisten ORI DIY Muhammad Rifki mengatakan, konfrontasi dilakukan bila ada temuan data yang kuat diantara kedua belah pihak, sehingga harus dilakukan pertemuan untuk saling mengklarifikasi.

ORI DIY sejak tahun 2016 menerima laporan dari warga tentang adanya penjualan pasir dari pengerukan sungai Winongo kecil yang dilakukan oleh Dinas PUP-ESDM DIY.

Dijelaskannya, pengerukan bertujuan untuk revitalisasi irigasi sungai Winongo di wilayah dekat Jalan Samas, Bantul.

Pelapor menyebut, pemerintah mensosialisasikan bahwa hasil kerukan akan dipakai untuk membuat tanggul atau talud sungai.

"Namun pelapor bilang itu tidak dipakai membuat tanggul, tapi malah diperjual belikan. Bahkan pelapor mengetahui siapa oknum yang menjual dan dijual ke siapa," tutur Rifki pada Kamis (3/8).

Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh ORI DIY dengan meminta klarifikasi Dinas PUP ESDM DIY.

Kepala Balai Prasarana Sumber Daya Air (PSDA) Dinas PUP dan ESDM DIY Wibisono membantah bila terjadi transaksi jual beli pasir kerukan revitalisasi sungai Winongo.

"Tidak ada jual beli, itu juga bukan pasir tapi lendut, semacam campuran antara lumpur dengan sampah yang mengendap di sungai, jadi bukan pasir dan tidak aja jual beli," ungkap Wibisono.

Ia berharap bisa bertemu dengan pelapor karena ingin menanyakan langsung, bukti transaksi yang disebutkan pelapor. Ia juga memastikan talud tetap bisa dibuat dalam program revitalisasi sungai Winongo tersebut. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved