Lestarikan Kearifan Lokal Lewat Lomba Dongeng
perlombaan tersebut sekaligus menjadi salah satu bukti nyata dan komitmen Kota Magelang, dalam mewujudkan sebuah kota yang benar-benar ramah bagi anak
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Sebagai upaya melestarikan kearifan lokal, sekaligus budaya Jawa, yang merupakan bagian dari kekayaan ragam budaya tanah air, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Magelang menggelar agenda lomba dongeng, di Gedung Wanita, Jumat (28/7/2017).
Sedikitnya, 41 DWP unsur pelaksana se-Kota Magelang, mengikuti perlombaan itu.
Penasihat DWP Kota Magelang, Yetty Biakti Sigit Widyonindito, dalam sambutannya mengatakan bahwa melalui kegiatan ini, diharapkan dapat memunculkan para pendongeng unggul, yang nantinya bisa mengajarkan anak-anak belajar mencintai budaya sendiri, seperti budaya berbahasa Jawa.
"Lomba dongeng merupakan bagian dari upaya untuk menanamkan pendidikan moral dan akhlak kepada anak. Mendongeng juga sarana untuk mewariskan nilai-nilai budaya dan sejarah. Melalui dongeng, anak-anak diberikan pemahaman tentang budaya, etika, norma, kesopanan dan kesusilaan," katanya.
Menurut Yetty, perlombaan tersebut sekaligus menjadi salah satu bukti nyata dan komitmen Kota Magelang, dalam mewujudkan sebuah kota yang benar-benar ramah bagi anak.
Terlebih, lanjutnya, belum lama ini kota sejuta bunga kembali meraih predikat sebagai Kota Layak Anak (KLA) Tingkat Nindya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, di tengah perkembangan dan kemajuan teknologi yang begitu pesat, budaya tutur sekarang mulai banyak ditinggalkan.
Menurutnya, masyarakat lebih asyik menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi. Padahal, tidak segalanya bisa digantikan dengan teknologi yang ada.
"Dewasa ini muncul anggapan dari orang tua, kalau anaknya bisa main game, gadget, atau handphone, bangga karena dianggap bisa mengikuti perkembangan jaman. Tanpa disadari, hal tersebut membuat anak-anak terpaku di depan layar dan membentuknya menjadi egois, karena kurang bersosialisasi," ungkapnya.
Yetty menjelaskan, mendongeng adalah lambang keakraban, antara yang mendongeng dengan yang mendengarkan.
Dahulu, lanjutnya, orang tua selalu membacakan dongeng kepada anak-anaknya saat hendak tidur. Mendongeng juga menjadi kesempatan bagi orang tua, untuk lebih dekat dengan anak-anaknya.
"Tradisi, atau kebiasaan ibu-ibu mendongeng kepada anak, atau cucunya, perlu dihidupkan lagi, supaya kedekatan secara psikologis itu kembali terbangun. Nantinya, ketika mereka sudah dewasa, akan teringat dengan dongeng dan bisa meneruskan tradisi secara turun temurun," ujarnya.
Sementara itu, Ketua DWP Kota Magelang, Demetrya Tety Sugiharto, menerangkan bahwa dilangsungkannya kegiatan ini juga dalam rangka HUT DWP ke 18.
Kriteria penilaian meliputi vokal (artikulasi, tempo dan intonasi), penghayatan (ekspresi, keaktoran) dan penampilan (kostum, property, penguasaan panggung).
"Masing-masing peserta diberikan waktu tujuh menit, untuk menunjukkan kebolehannya dalam mendongeng dan dinilai oleh juri-juri yang kompeten. Meski baru pertama kali, ternyata ibu-ibu DWP banyak yang kreatif. Mereka membawa properti untuk mendukung penampilan, supaya lebih menarik," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/lomba-dongeng-mgl_20170728_183608.jpg)