LIPSUS TRIBUN JOGJA

Kawasan Selatan Mulai Menggiurkan untuk Investasi Properti

Pada pasar kelas menengah membeli rumah bukan hanya karena kebutuhan akan tempat tinggal tetapi juga tujuan investasi.

Kawasan Selatan Mulai Menggiurkan untuk Investasi Properti
tribunjogja/arfiansyahpanjipurnandaru
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Meskipun di tengah perlambatan pertumbuhan pasar properti nasional, pasar properti di Yogyakarta masih mempunyai secercah harapan dengan menggeliatnya sektor pariwisata dan daerah tujuan pendidikan di Tanah Air.

Hal ini pula yang diakui Welly Luxza Pradana, pengembang asal Yogyakarta. Welly merasakan jatuhnya pasar properti di Yogyakarta pada dua tahun belakangan ini.

"Tahun 2016 jelek di Yogya. Tahun lalu saya memilih keluar, walau memang masih ada beberapa lahan yang menarik di develop cuma memang harus lebih selektif," ungkap Welly kepada Tribun Jogja.

Beberapa alasan, kata Welly terutama harga tanah di Yogyakarya yang sudah terlalu tinggi, sedangkan pasar belum bisa maksimal.

Baca: Investasi Beli Rumah Sekarang, Lima Tahun Lagi Keuntungannya Bisa Naik 100 Persen

"Makanya saya pun minggir kerja yang di bawah Rp1 miliar," sebutnya.

Iklim positif

Meski demikian, kata Welly, Kota Gudeg masih mempunyai iklim investasi yang baik, terutama didukung pertumbuhan di sektor pariwisata dan pendidikan.

Terbukti dengan kenaikan harga properti yang konsisten tinggi sehingga menjadi daya tarik para pemilik kantong tebal untuk berinvestasi properti.

"Yogya masih menjadi jujugan (tujuan-red) cuma memang harus selektif tadi, buktinya developer transnasional bemodal gede masih wira-wiri di Yogya, jor-joran pada bangun rumah dan apartemen," ujarnya.

Welly juga masih optimis untuk bersaing menggarap pasar properti di Yogyakarta.

Baca: Bisnis Propreti di DIY Mengalami Titik Jenuh

Bahkan pada akhir Agustus atau paling lambat September 2017, melalui bendera PT Utama Jaya Mekar, siap running untuk proyek perumahan sebanyak 70 unit rumah pada lahan seluas 1.6 ha di Jalan Wates km 12 Bantul.

Proyek perumahan besutannya ini akan membidik kelas menengah dengan starting harga Rp600-Rp700 juta.

Pertimbangannya melihat pola konsumen yang memilih membeli properti di Yogyakarta.

Pada pasar kelas menengah membeli rumah bukan hanya karena kebutuhan akan tempat tinggal tetapi juga tujuan investasi.

"Nah ini serunya. Mereka (kelas menengah) ini both side. Kebutuhan tempat tinggal sekaligus invest karena daerah berkembang. Di lokasi yang sudab hidup seperti di utara (Jakal -Jamal) sudah level investor yang mungkin sudah jenuh juga," paparnya.

Baca: Mahasiswa yang Dulu Ngekos Sekarang Pilih Beli Apartemen

Diakui Welly potensi di wilayah barat-selatan Yogyakarta masih mempunyai potensi yang besar, rencana pembangunan Bandara di Kulonprogo menjadi alasan nomor satu, alasan nomor dua, kata Welly, karena memang untuk wilayah utara Yogyakarta harga tanah sudah terlalu tinggi.

"Ya, ada gula ada semut. Saya rasa ini yang juga jadi pertimbangan Merapi dan Ciputra buka lahan ke selatan-barat. Jadi peluang jg buat buyer-buyer kita untuk dapat menikmati kenaikan harga tanah lebjh menarik daripada jika di utara," ujarna. (vim/yud)

Penulis: vim
Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved