Ada yang Jual Fosil, Kepala Desa Banjarejo Tak Bisa Langsung Stop Mereka

Tahun lalu, tepatnya 27 Oktober 2016, Banjarejo diluncurkan sebagai Desa Wisata Purbakala dan Budaya oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni.

Ada yang Jual Fosil, Kepala Desa Banjarejo Tak Bisa Langsung Stop Mereka
tribunjogja/setya krisna sumargo
Achmad Taufik (37), Kepala Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jateng. 

"Kalau semua fosil diburu dan habis dijual, apa yang bisa didapatkan generasi kita di masa yang akan datang," aku pria yang sejak masuk SMP bersekolah di Kota Solo. Taufik ini menimba ilmu sekaligus mondok di SMP dan SMA Al Muayyad.

Tak hanya fosil, Banjarejo sesungguhnya memiliki kekayaan sejarah sangat lengkap dari masa purba, prasejarah, klasik, Islam, hingga peradaban modern. Temuan-temuan benda kuno diketahui sejak bertahun lalu.

Ada kubur batu atau dikenal dengan sebutan kubur budo, guci dan koin kuno, lesung batu jumbo, dan beberapa tahun lalu ditemukan artefak pondasi atau dinding batu merah di dataran persawahan Dusun Medang.

Di lokasi ini dipercaya bekas pusat Kerajaan Medang Kamulan, yang mitosnya sang raja, Prabu Dewoto Cengkar kejam luar biasa dan suka memangsa manusia. Dari Medang pula lahir legenda Aji Saka sekaligus kelahiran aksara Jawa.

"Tentu upaya penyadaran dan penyelamatan kekayaan sejarah ini tak semudah membalikkan tangan," kata alumnus UMY 2002 yang selulus kuliah melanjutkan usaha bapaknya sebagai blantik sapi.

"Saya sangat terbantu semangat pegiat Komunitas Peduli Fosil Banjarejo, yang berupaya keras menyelamatkan setiap temuan fosil dari Banjarejo dan sekitarnya," kata suami dari Yuyun Istichomah ini.

Menurut Achmad Taufik, menghentikan kebiasaan warga penemu dan pemburu fosil menjual temuannya ke pasar gelap tidak gampang. "Saya tidak bisa langsung stop mereka. Pelan-pelan prosesnya," katanya.

Taufik selalu meminta warga yang menemukan menginformasikan kepada dirinya, menyerahkan temuan dan masih boleh menjualnya sebagian.

"Tidak mudah mengubah kebiasaan mereka yang pagi kerja, sore dapat uang," lanjut bapak dari Daffa Ibqie Hafidz (2005), Fariezt Fadlurachman (2009), dan Shailendra Raja Ahmad (2015) ini.

Perburuan dan bisnis fosil purba di Banjarejo dan sekitarnya diketahui sudah marak sejak sekitar 10 tahun lalu.

Halaman
123
Penulis: Setya Krisna Sumargo
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved