Breaking News:

117 Laporan Bullying Diterima Tepsa Kemensos RI, Hingga Juli 2017

Baginya, angka tersebut sudah masuk ke dalam kategori mengkhawatirkan dan tingkatannya sudah cukup tinggi di Indonesia.

Editor: oda
net
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, SALATIGA - Sejak tahun lalu (2016), Kementerian Sosial (Kemensos) RI telah memiliki layanan konsultasi, pengaduan terhadap kejadian tindak kekerasan, penelantaran, hingga terkait anak berhadapan dengan hukum (ABH) yang secara umum bertujuan guna perlindungan terhadap anak.

Layanan yang dimaksud itu bernama Telepon Sahabat Anak (Tepsa) yang dibuka selama 24 jam dalam sehari.

Adapun bagi masyarakat yang hendak berkonsultasi, mengadu, maupun melapor berkait anak, dapat menghubungi di nomor khusus yang telah tersedia, yakni 1500771. Operator pun bakal merespon secara cepat (quick response).

Dan berkait kasus bullying yang beberapa waktu terakhir ini cukup marak di beberapa daerah, Kemensos RI pun merasa terbantu dengan kehadiran layanan Tepsa tersebut.

Ada cukup banyak laporan serta pengaduan yang masuk dan berdasarkan catatan, setidaknya di periode Januari hingga Juli 2017, total ada sekitar 976 pengaduan.

"Tujuh bulan terakhir ini cukup banyak. Hingga 15 Juli 2017 ini saja sudah mencapai 976 pengaduan dan 117 pengaduan di antaranya adalah berkaitan dengan kasus bullying. Jadi, sebenarnya tidak hanya satu atau dua kasus. Ada banyak, hanya memang itu yang terungkap dan ada buktinya ke publik," kata Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa.

Hal tersebut diungkapkan Khofifah kepada Tribun Jateng, kemarin Jumat (21/7/2017) petang seusai berkegiatan di Kantor Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang.

Baginya, angka tersebut sudah masuk ke dalam kategori mengkhawatirkan dan tingkatannya sudah cukup tinggi di Indonesia.

Tingginya kasus bullying itu, secara tidak langsung pula berdampak pada tingginya tingkat disharmoni di masyarakat.

"Bullying itu ada banyak dampak pada diri korban, loh. Mulai dari depresi, introvert, psychosomatic, hinga suicide bullying (bunuh diri karena dibully). Sehingga, jangan sampai kasus tersebut dianggap enteng. Jangan sampai pula dibiarkan berkembang secara liar di Indonesia. Karenanya, kami minta bantuan juga seluruh pihak untuk membantu pemerintah," pintanya.

Menurutnya, yang harus dilakukan dan tidak ada kata terlambat adalah kembali mengoptimalkan dalam membangun harmonius partnership yang artinya yakni berkawan dengan siapapun sehingga terbangun suasana yang harmoni.

Karena itu, pihaknya berharap dan mengajak agar seluruh pihak untuk tidak underestimate.

"Dari survei yang telah kami lakukan di Kemensos RI, di usia anak 12 hingga 17 tahun, setidaknya 84 persen di antaranya telah atau mengalami kasus bullying tersebut. Di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga ada data. Pada 2016 total ada 3.580 kejadian dan 14 persen di antaranya adalah cyber bullying," jelasnya.

Atas dasar itu, tambahnya, pemerintah kembali berharap seluruh pihak bersama-sama mengawasi dan mengedukasi agar kasus bullying dapat dihilangkan.

Peran serta orangtua pun dalam hal ini sangat penting, termasuk juga di lingkungan pendidikan. Bhineka Tunggal Ika, tampaknya perlu semakin digiatkan kembali. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved