LIPSUS TRIBUN JOGJA

Curhatan Seorang Penyandang Disabilitas: Kalau Bisa Gaji Saya Naik Rp 50 Ribu Saja

Dia mendapat gaji Rp 500 per bulan. Uang itu tentu tak cukup untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Curhatan Seorang Penyandang Disabilitas: Kalau Bisa Gaji Saya Naik Rp 50 Ribu Saja
Tribun Jogja
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Pasangan difabel lain yang tak kalah gigih berjuang demi masa depan hidupnya adalah
Tri Purwantono dan Suminten.

Pasangan yang sama-sama menderita penyakit polio ini masih menumpang di rumah orang tua Tri yang berlokasi di Timbulharjo, Sewon, Bantul.

Meskipun demikian, Tri Demang--sapaannya, tetap teguh berjuang menyambung hidup dengan bekerja di Yayasan Penyandang Cacat Mandiri di Bantul sebagai pengrajin kayu.

Dia mendapat gaji Rp 500 per bulan. Uang itu tentu tak cukup untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Baca: Hebatnya Pasangan Disabilitas Asal Yogya Ini, Mereka Pantang Ngemis dan Pilih Keliling Jualan Roti

Apalagi tahun ini dia berkewajiban memasukkan anaknya ke jenjang sekolah menengah pertama (SMP).

Bergelut hidup dengan berkarya dipilih Tri Demang ketimbang hanya mengamen dan meminta-minta. Memang dia pernah terjuan mengamen, namun pekerjaan tersebut lantas ia tinggalkan.

Menurutnya, mengamen tak akan memajukan kreatifitas seseorang.

"Kalau cuma ngamen saya nggak akan berkembang. Saya sadar, otak saya nggak akan bertambah pintar kalau cuma digunakan ngamen dan meminta-minta," ucapnya.

"Demi membiayai anak, saya pilih bekerja dan hidup seadanya asal anak saya tamat sekolah hingga SMA," katanya.

"Permintaan saya satu, gaji saya pengin dinaikkan. Kalau bisa naik Rp 50-100 ribu saja," tambahnya.
Ia pun berharap, suatu saat nanti dapat membelikan istrinya alat jahit sehingga bisa mengajak penyandang disabilitas lain untuk sama-sama bekerja.

Selain itu, Tri Demang juga bermimpi bila suatu hari nanti ia mampu membangun rumah sendiri. Meskipun seadanya paling tidak dia bisa dianggap mandiri.

Sementara itu, pusat rehabilitasi Yakkum mengatakan, sebagai sebuah lembaga pihaknya hanya bisa mengawasi apa yg sudah dibuat pemerintah yakni UU disabilitas.

Tak jarang Yakkum sendiri berusaha membekali para penyandang disabilitas yang ada dengan cara memberikan ketrampilan agar berguna kedepannya.

"Kami punya pusat rehabilitasi, dan ada pula beberapa tim yang terjun ke masyarakat ada. Kalau terjun ke masyarakat biasanya bekerjasama dengan pemerintah," ujar Gabriela Ajeng Cahyaning Puspitajati dari Bagian Informasi dan Komunikasi Yakkum.

Setelah dilakukan rehabilitasi, sambung dia, akan diberikan training (membatik, menjahit, elektro) agar selepas dari yayasan mereka bisa hidup mandiri tanpa menggantungkan orang lain.

"Kami hanya meminta pemerintah untuk menyetarakan mereka, karena mereka juga bisa berkontribusi seperti orang-orang normal," tambah Gabi.

Keberadaan Yakkum hanyalah pembantu pemerintah dalam hal rehabilitasi. Memberdayakan disabilitas, adalah bentuk keikutsertaan Yakkum terhadap program-program pemerintah agar tidak hanya sekedar program.

"Karena semua orang ditanggung pemerintah, maka pemerintah juga yang bertanggung jawab," jelasnya. (tribunjogja.com)

Penulis: sis
Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved