Meski Lelah Saat Mudik, Ini Kata Pemudik Soal Cara Mengatasi Kelelahan dalam Perjalanan

Mudik dan momen Lebaran menjadi salah satu ajang untuk mempertemukan keluarga atau balung pisah

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Agung Ismiyanto
Sejumlah pemudik mulai berdatangan di terminal Giwangan, Kamis (22/6/2017) sore. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tradisi mudik Lebaran menjadi salah satu hal yang tak bisa ditinggalkan setiap tahun. Meski jalanan macet, capek dan menguras energi, banyak pemudik yang kangen dengan kampung halamannya.

Terlebih, mudik dan momen Lebaran menjadi salah satu ajang untuk mempertemukan keluarga atau balung pisah dalam bahasa jawanya.

SEJUMLAH kardus dan tas berukuran besar berada di sekitar kaki Wulan Ariyani. Mata perempuan berusia 30an tahun ini terlihat sayu lantaran capek menempuh perjalanan ratusan kilometer. Dia memilih moda transportasi bus sebagai andalannya saat mudik.

“Kalau mudik pasti capek, namun obatnya adalah ketika sampai rumah dan ketemu keluarga,” ujar Wulan saat ditemui di terminal Giwangan, Kamis (22/6/2017) sore.

Wulan memang sudah membayangkan jika perjalannya dari Jakarta menuju Yogyakarta akan sangat terasa melelahkan. Namun, tak ada pilihan untuk tidak mudik lantaran momen Lebaran adalah salah satu hal yang ditunggunya setiap tahun.

Beberapa tahun di Jakarta, Wulan pun sudah terbiasa dengan rutinitas mudik Lebaran. Tak jarang dia juga kerap balik ke kampung halamannya di kawasan Prambanan setiap dua kali dalam setahun. Perjalanan melelahkan, macet, dan membuatnya stress di jalan pun sudah hal yang lumrah.

“Saya nikmati saja perjalanannya. Toh, nanti ketemu sama sanak keluarga dan itu momen yang asyik,” ujar perempuan yang bekerja membuat kue di ibu kota ini.

Hal yang sama juga dialami oleh Ari Anggorowati (35), jika mudik adalah pekerjaan yang melelahkan namun mengasyikkan. Ari sudah bertahun-tahun menjalani mudik dan balik, dari macet hingga padat merayap di perjalanan.

Ari yang mudik dari Magetan, Jawa Timur menuju ke Kebumen ini mengatakan, jika perjalanan dari Jawa Timur menuju Yogya ataupun Kebumen macet adalah hal yang paling membuatnya bosan. Stress pun kerap melandanya dan sebagai gantinya, dia menyalurkannya dengan tidur di bus atau bermain sosial media melalui gawainya.

Sementara itu, ribuan peserta mudik gratis terus berdatangan ke terminal Giwangan sejak Senin (19/6) lalu. Puncak kedatangan peserta mudik gratis akan terjadi pada Kamis (22/6).

Menurut Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Giwangan Yogyakarta Bekti Zunanta sebanyak 21 bus yang membawa 1.030 peserta mudik gratis dari Jasa Rahardja asal Jakarta, diikuti lima bus dari Kementerian Perhubungan yang membawa sekitar 170 penumpang dari Jakarta datang pada Senin (19/6) lalu.

“Setiap hari ada saja peserta mudik gratis yang tiba di Terminal Giwangan Yogyakarta dan diperkirakan puncak kedatangan peserta mudik gratis terjadi pada Kamis (22/6) malam ini,” katanya.

Untuk Kamis malam, diperkirakan ada 45 bus yang membawa sekitar 2.400 peserta mudik gratis Kementerian Perhubungan dari Jakarta. Selain menerima peserta mudik gratis, Terminal Giwangan juga dijadikan tempat untuk menurunkan sepeda motor pemudik. Hingga saat ini, sudah ada empat truk berisi 176 sepeda motor yang sudah masuk ke terminal.

"Masih akan ada lima truk dengan 379 sepeda motor yang masuk ke Terminal Giwangan. Sampai sekarang, kami masih menunggu," katanya. (Tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved