Kisah Mbah Pri Belajar Sepatu Roda di Umur 53 Tahun

bila tak ada aral rintangan Mbah Pri akan meneruskan hobinya bersepatu roda menuju kota Surabaya

Kisah Mbah Pri Belajar Sepatu Roda di Umur 53 Tahun
TRIBUNJOGJA/Bramasto Adhy
Supriyanto Al Amin Sukri atau akrab disapa Mbah Pri bersepatu roda melintasi kawasan Malioboro, Yogyakarta, Jumat (9/6). Beraktivitas dengan tidak mengendarai kendaraan bermotor sedikit banyak mengurangi polusi udara. . 

"Insya Allah, di peringatan hari Pahlawan 10 November nanti, saya akan menuju ke kota Surabaya bersepatu roda. Kalau para pahlawan berjuang melawan penjajah, kalau saya berjuang dengan bersepatu roda. Bojo muring tetep ngglinding," tandasnya.

UCAPAN itulah yang terlontar dari mulut Supriyanto Al Amin Sukri ketika ditemui Tribun Jogja pada Senin (12/6/2017).

Tak sulit mencari tempat tinggal Supriyanto ini, pria pensiunan golongan B PJKA ini kini sehari-harinya tinggal di selatan lintasan kereta api Pathukan, Gamping Lor Ambarketawang Sleman.

Nyentrik, bila melihat Bapak empat putra ini, umur yang sudah menginjak enam puluh empat tahun seakan tak mampu memadamkan bara semangat pria yang akrab disapa Mbah Pri ini untuk terus menyalurkan hobinya bersepatu roda.

Ia pun sudah berikhtiar bila tak ada aral rintangan Mbah Pri akan meneruskan hobinya bersepatu roda menuju kota Surabaya, tujuannya satu hanya untuk mengikuti upacara hari Pahlawan di kota Pahlawan.

Dari keterangan yang dilontarkan, tekad ini ia cetuskan karena ia merasa kurang puas dengan keberhasilannya meluncur bersepatu roda sampai ke istana merdeka, Jakarta kala menghadiri upacara kemerdekaan tahun lalu.

Waktu itu ia bertekad untuk mengikuti Upacara dan bertemu dengan Presiden Joko Widodo, sayangnya tekad mulianya ikut upacara dengan berpakaian adat Jawa itu mesti kandas. Memang ia mengikuti upacara di Jakarta, namun ia mesti berada di belakang panggung upacara.

"Saya sedikit kecewa waktu itu, orang-orang istana tidak membolehkan saya masuk kesana. Padahal draf yang sudah ditandangani oleh wakil Gubernur DIY dan KONI DIY itu sudah saya kirimkan ke sekretaris Negara yang diterima oleh Menpora," katanya.

Mbah Pri menambahkan, waktu itu Menpora sendiri mengijinkan, namun sampai di sana nasib berkata lain, protokol upacara tidak mengijinkan Mbah Pri masuk, dia hanya ditempatkan di ring 1 yaitu di belakang panggung upacara.

"Sudahlah kekecewaan waktu itu terhadap Negara lantas sirna begitu melihat komunitas sepatu roda Jakarta menyambut dan mengelu-elukan saya secara berbondong," ujar Mbah Pri.

Halaman
123
Penulis: sis
Editor: Iwan Al Khasni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved