Gee Batik Gambarkan Dua Sisi Manusia
Warna hitam-putih yang saling bertentangan menggambarkan manusia yang juga kadang memiliki dua sisi yang berbeda.
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sugeng Waskito lewat labelnya, Gee Batik memperkenalkan rancangan terbarunya 'Poleng of Java' dalam gelaran Jogja Fashion Festival pada awal Maret lalu.
Dalam koleksinya kali ini, Sugeng ingin memberikan pendekatan bahwa poleng tidak hanya dikenal dari Bali, melainkan juga di Jawa.
Motif poleng yang berbentuk kotak-kotak berwarna hitam-putih layaknya papan catur ini mengandung filosofi yang tinggi.
Warna hitam-putih yang saling bertentangan menggambarkan manusia yang juga kadang memiliki dua sisi yang berbeda.
Motif poleng ini biasanya banyak dilihat di Bali, sehingga tak ayal masyarakat mengidentikkan motif ini dengan Bali. Namun rupanya, motif ini juga banyak dijumpai di Pulau Jawa meskipun gaungnya masih redup.
"Motif Poleng memang selama ini identik dengan Bali, padahal di Jawa juga ada. 'Poleng of Java' kali ini ingin memberikan pengetahuan bahwa Jawa pun juga memiliki poleng," ujar Sugeng saat ditemui di galerinya yang berlokasi di Jalan Tunjung nomor 8, Baciro, Yogyakarta.
Masih dengan ciri khas Gee Batik yang mengangkat batik kontemporer, Sugeng mengaplikasikan motif poleng dengan motif batik abstrak pada koleksi teranyarnya. Sebanyak sepuluh outfit dihadirkan dengan siluet loose nan elegan.
"Kombinasi poleng dengan batik abstrak memang tampak crowded, sama seperti manusia yang crowded dengan segala permasalahan yang dialaminya," kata perancang yang sudah 23 tahun menggeluti dunia fashion ini.
Karya Sugeng didominasi warna dasar hitam dengan motif abstrak yang menghiasi pada bagian tengah baju dengan warna-warna yang berani, misalnya merah, kuning, hijau hingga pink.
Kemudian untuk mempertegas bahwa ini adalah batik, Sugeng kerap menyelipkan motif Bali dan motif Yogyakarta pada ujung motif abstrak atau sudut-sudut busananya.
Untuk urusan style busananya, Sugeng sering menggunakan siluet loose dengan permainan aksen pada lengan, rok dan leher. Pada bagian lengan, busananya sering memainkan sleeveless maupun lengan dengan ujung melebar.
Kemudian pada bagian leher, Sugeng banyak bermain pada aksen simetris, asimetris depun maupun kerah Shanghai.
Bahkan untuk merancang sebuah busana, ia mengaku tidak pernah menggunakan pola. Biasanya, ia hanya meletakkan sebuah kain di manekin kemudian memotong-motongnya lalu menjahitnya.
"Style saya simpel saja karena kainnya sendiri sudah 'ramai', terkadang orang membeli Gee Batik bukan karena busananya semata tapi juga motif yang mengandung nilai seni. Busana Gee Batik memang tidak memiliki detil khusus karena detilnya sudah terkandung dalam motifnya. Tidak jarang, koleksi Gee Batik ini dinikmati sebagai karya seni yang long time, bisa jadi momen tersendiri bagi pemiliknya bahkan diwariskan pada generasi berikutnya," paparnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/gee-batik_20170408_180437.jpg)