Semarak Pengiringan Ogoh-ogoh Di Pura Jagadnatha

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama umat Hindu lainnya melakukan Upacara Pacuruan dan Pengerupukan.

Penulis: trs | Editor: oda
tribunjogja/tris jumali
Puluhan orang mengangkat Ogoh-ogoh Butha Kala di kawasan Pura Jagadnatha jalan Pura 370 Plumbon, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama umat Hindu lainnya melakukan Upacara Pacuruan dan Pengerupukan di wilayah sekitar Pura Jagadnatha jalan Pura 370 Plumbon, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.

I Wayan Sudi Adnyana selaku panitia Nyepi menuturkan Upacara Pecaruan berfungsi untuk menetralkan energi-energi negatif.

"Sama seperti sembahyang biasa, meminta perlindungan kepada yang kuasa untuk dijauhi dari roh-roh jahat atau untuk menetralkan energi negatif," ungkapnya.

Setelah Upacara Pecaruan dilanjutkan dengan Pengerupukan.

"Pengerupukan itu, pengarakan ogoh-ogoh keliling kampung, kemudian di akhir acara dibakar sebagai simbol pemusnahan energi-energi negatif," lanjut I Wayan Sudi.

Prosesi ini masih dalam satu rangkaian upacara Tawur Agung Kenanga yang sebelumnya dilaksanakan di Candi Prambanan, Sleman, Yogyakarta.

I Nyoman Santiawan selaku Panitia Nyepi Koordinator Pawai Budaya mengatakan ada delapan ogoh-ogoh yang nantinya akan diarak sekitar Pura, empat diantaranya adalah buatan Panitia Nyepi, dan empatnya lagi buatan anak-anak yang tinggal di wilayah Banguntapan.

Empat jenis ogoh-ogoh buatan panitia Nyepi yaitu Butha Kala Marica, Butha Kala Cawil, Narasinga, dan Butha Raja.

"Dalam pewayangan Ramayana, Marica adalah monster yang menyamar menjadi Kijang untuk mengelabui Rahma dalam penculikan Shinta," ungkap I Nyoman Santiawan.

Kemudian, Butha Kala Cawil adalah makhluk yang dulu meninggalnya dibuang begitu saja tanpa dilakukan upacara, sehingga roh dari makhluk tersebut gentauangan dan mengganggu manusia.

I Nyoman Santiawan melanjutkan, untuk Narasinga merupakan Awatara berbadan manusia berkepala singa yang mengalahkan raksasa bernama Hiranyakasipu.

"Kalau yang Butha Kala Raja itu rajanya Butha Kala atau rajanya kekuatan jahat yang bersifat negatif," tandasnya.

Tak hanya orang dewasa yang mengangkat Butha Kala untuk diarak, anak-anak kecil pun ikut antusias mengarak ogoh-ogoh keliling wilayah Pura, meskipun ukuran ogoh-ogohnya lebih kecil tetapi semangatnya mengalahkan orang dewasa.

Suara gendang, gong, dan gamelan beriringan memandu pengarakan ogoh-ogoh yang bergerak liar diangkat oleh puluhan orang sambil berteriak serentak membakar semangat. Terdengar suara dari pengarak "lumayan keringatan,".

Saat proses pengarakan, warga maupun pengunjung ikut mengelilingi ogoh-ogoh sehingga penuh berdesakan.

Pengarakan ogoh-ogoh ini berlangsung meriah, seorang pengunjung yang bukan dari daerah itu datang dengan tujuan ingin melihat prosesi pembakaran ogoh-ogoh.

"Mau hunting, penasaran sama ritual pembakarannya, acaranya menarik, riuh, rame banget," tutur Yustina (21) dari Kecamatan Kraton. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved