KAI dan AP 1 Saling Lempar Bola soal Pengadaan Lahan Pembangunan Jalur Kereta Bandara
Pengadaan tanah untuk pembangunan trase jalur kereta dilakukan oleh PT Angkasa Pura I sebagai pemrakarsa pembangunan bandara baru.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO – Proyek pembangunan jalur kereta bandara diprediksi bisa dilakukan paling cepat pertengahan 2017 ini.
Meski begitu, saat ini rupanya belum ada titik temu rencana pengintegrasian moda transportasi tersebut antara PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Angkasa Pura 1.
Khususnya terkait pengadaan lahan untuk pembangunan jalur kereta.
Kepala PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daops VI Yogyakarta, Hendy Helmy mengatakan, pihaknya sudah bersiap untuk membangun jalur kereta api menuju bandara.
Pengadaan tanah untuk pembangunan trase jalur kereta dilakukan oleh PT Angkasa Pura I sebagai pemrakarsa pembangunan bandara baru.
Adapun PT KAI nantinya membangun konstruksi rel dan pengadaan unit kereta penumpangnya.
“Kalau pembebasan lahan selesai dilakukan, pertengahan atau akhir tahun ini pembangunannya sudah bisa dilakukan. Yang penting, bandaranya dulu selesai (dibangun),” kata Helmy di sela inspeksi rutin dan test narkoba bagi karyawan PT KAI di Stasiun Wates, Selasa (21/3/2017).
Masterplan pembangunan bandara baru Yogyakarta di Kulonprogo memang mencantumkan akan dibangunnya jalur kereta api yang langsung menuju kawasan bandara.
Perjalanan kereta berangkat dari Yogyakarta akan dibelokkan dari jalur existing kereta api lintas selatan melalui Stasiun Kedundang ke arah selatan menuju area terminal penumpang di dalam bandara.
Jalur kereta ini juga akan berpotongan dengan ruas jalan nasional Yogyakarta-Purworejo. Beberapa waktu lalu, PT KAI sudah melakukan pengukuran lapangan atas calon jalur tersebut.
Sedianya, jalur kereta api dari bandara akan berlanjut ke arah barat hingga areal ground logistik dan menyatu lagi dengan jalur existing di sisi utara melalui Stasiun Wojo, Purworejo. Hanya saja, menurut Hendy, jalur hanya akan dibuat satu lintasan saja pada tahap awal.
“Keretanya bolak-balik dari Stasiun Kedundang ke bandara dan sebaliknya. Namun, ke depannya akan dikembangkan dengan jalur hingga Stasiun Wojo di Purworejo,” kata Hendy.
Terkait jenis kereta yang akan digunakan, Hendy mengindikasi kemungkinan besar berupa unit kereta rel listrik (KRL) yang cenderung efisien mengangkut penumpang dan perawatannya lebih mudah ketimbang kereta diesel.
Ini juga sejalan dengan rencana pengoperasian KRL di wilayah operasi DAOPS VI sepanjang Kutoarjo-Solo.
Di sisi lain, Project Manager Pembangunan Bandara Baru Yogyakarta PT AP 1, Sujiastono mengatakan, pengadaan lahan untuk jalur kereta menuju bandara sepenuhnya menjadi tanggungjawab PT KAI sebagai operator moda transportasi darat tersebut.
Sedangkan PT AP 1 akan bertanggungjawab membangun stasiun kereta di dalam area terminal penumpang di bandara.
“Kalau AP 1 yang ngadain lahan sementara yang menggunakan PT KAI, agak susah nanti pembagian asetnya,” kata Suji.
Adapun rencana pembangunan terminal penumpang dilakukan secara paralel seiring pembangunan runway atau landasan pacu.
Jika sesuai timeline, pembangunan runway akan dimulai pada Juli sedangkan pembangunan terminal penumpang dilakukan antara kurun September-November.
Suji mengatakan, jika terminal sudah rampung dibangun sementara kereta bandara belum bisa diselesaikan, pihaknya memiliki opsi lain untuk menunjang mobilitas penumpang di bandara.
“Kita carikan alternative lain. Mungkin sambil itu (jalur kereta) dibangun, kita pakai shuttle bus namun ke Stasiun Wojo yang relatif lebih dekat. Tapi kalau ada kereta api langsung ke masuk ke terminal penumpang bandara, itu lebih bagus sebenarnya,” kata dia.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/inspeksi-kondisi-sarana-dan-prasarana-di-stasiun-wates_20170321_190216.jpg)