Menengok Potret Pembuat Arang Kayu Tradisional di Desa Jatimulyo Kulonprogo
Saat ini, arang sudah semakin jarang dipakai karena tergusur oleh jenis bahan bakar fosil maupun gas dan briket.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Arang kayu dahulu jamak digunakan masyarakat sebagai bahan bakar untuk berbagai keperluan.
Saat ini, arang sudah semakin jarang dipakai karena tergusur oleh jenis bahan bakar fosil maupun gas dan briket.
Namun begitu, bukan berarti produksi arang secara tradisional itu lenyap seketika. Di Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo masih bisa dijumpai sedikit warga yang memproduksi arang secara tradisional di pekarangan rumahnya.
Seperti yang dilakukan Arif (50), warga Pedukuhan Sedoyong Kembang. Pria ini sudah bertahun-tahun menekuni usaha pembuatan arang.
Saat ditemui, dirinya tengah sibuk memantik bara api untuk pembuatan arang. Kayu-kayu mentah tersusun sedemikian rupa di depannya.
Jarak susunan antar kayu sedemikian rapat membentuk semacam kubus. Arif mengerjap-kerjapkan matanya ketika gumpalan asap tebal berwarna putih dari dalam kubus kayu itu menghampiri wajahnya dan membuat perih matanya.
Musim hujan begini, sedikit banyak membuat pekerjaannya terganggu karena kayu cenderung basah dan menyulitkan proses pembakaran. Asap hasil pembakaran pun jadi lebih tebal tercipta.
“Musim hujan jadi susah, prosesnya jadi lama. Rata-rata bikinnya dua hari jadi tapi kalau hujan sering turun begini ya mungkin bisa lebih lama,” kata Arif.
Proses pembuatan arang yang dilakukannya terbilang sederhana dan sangat tradisional. Kayu-kayu mentah disusun sedemikian rupa dan berjarak rapat membentuk semacam bentuk kubus dengan celah sempit di bagian bawah.
Celah ini berfungsi sebagai tungku pembakaran utama untuk tempat api berkobar dan membakar kayu.
Durasi pembakaran yang cukup panjang mengharuskan api tetap menyala tanpa jeda. Untuk itu, di bagian samping kubus kayu, Parif mengoleskan tanah liat dalam ketebalan tertentu dan tumpukan dedaunan di bagian atas.
Menurutnya, tanah liat akan membuat nyala api tetap terjaga stabil dan tak tertiup angin dari arah samping serta proses pembakaran yang sempurna. Sedangkan dedaunan selain berfungsi menahan cucuran air juga berfungsi untuk menjaga proses pembakaran tidak berlebihan sehingga kayu tidak terbakar habis dan menjadi arang yang bagus.
Kayu yang sering digunakannya sebagai bahan pembuatan arang adalah jenis-jenis kayu keras seperti mahoni dan sonokeling. Kayu keras macam itu akan menghasilkan arang yang awet dipakai dan bernyala api cukup bagus.
Dalam sekali pembuatan, dirinya paling tidak membutuhkan sekubik kayu dan menghasilkan hingga 5-6 karung besar arang. Tiap karungnya dijual dengan harga Rp50 ribu-56 ribu kepada pengepul di wuilayah Wates dan Sedayu (Bantul).
“Saya sudah ada pelanggan sendiri di Wates dan Sedayu. Biasanya dijual lagi ke pedagang-pedagang sate dan lainnya yang membutuhkan arang,” ujarnya.
Arif bukanlah satu-satunya pembuat arang tradisional di Jatimulyo. Beberapa tetangganya juga menekuni pekerjaan yang sama.
Bagi mereka, membuat arang sudah seperti menyambung hidup. Meski arang kayu kian dipinggirkan oleh gas dan minyak bumi, dirinya tetap tekun membakar arang untuk mengasapi dapur rumahnya. (*)