Pedagang Ban dan Pelek Bersaing di Pelayanan

Pedagang ban dan pelek ini untuk memenuhi kebutuhan pemilik mobil saat harus ganti ban secara berkala karena sudah aus atau sekedar modifikasi.

Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: oda
tribunjogja/yudha kristiawan
Mujiono Ketua Paguyuban Pedagang Ban dan Pelek Kotabaru di lapak miliknya. Pedagang kesulitan membuang ban bekas karena sebagian besar ban sekarang tak bisa di daur ulang. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Salah satu sentra pedagang ban dan pelek mobil di Yogyakarta ada di bilangan Kotabaru.

Bisnis jual beli ban dan pelek mobil ini sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu, sebelum banyak bisnis serupa bermunculan di kota Gudeg.

Bisnis ini masih bertahan hingga sekarang seiring pertumbuhan jumlah kendaraan roda empat di Yogya yang setiap tahun bertambah banyak.

Keberadaan pedagang ban dan pelek ini untuk memenuhi kebutuhan pemilik mobil saat harus ganti ban secara berkala karena sudah aus atau sekedar kebutuhan modifikasi.

Ketua Paguyuban Pedagang Ban Mobil Kotabaru, Mujiono saat ditemui Tribun Jogja di lapaknya menuturkan, saat ini untuk mempertahankan pelanggan ia dan pedagang lainnya hanya mengandalkan pelayanan.

Soal harga tak bisa dijadikan alasan persaingan bisnis. Apalagi untuk ban dan pelek bekas pakai yang memang tak ada harga batas bawah dan atasnya.

Faktor pelayanan terbaik pada pelanggan adalah yang bisa membuat pelanggan masing-masing pedagang setia.

"Sekarang sudah banyak pedagang serupa. Hampir di setiap jalan utama di Yogya sudah ada yang jual ban dan pelek. Banyaknya pedagang seperti kami mendandakan bahwa bisnis ini masih menjanjikan. Kami bisanya cuma bersaing di pelayanan, kami sepakat berani jujur dan menjaga kualitas barang yang dijual," kata pria yang akrab disapa Jono ini, Kamis (23/2/2017).

Lanjut Jono, ban dan pelek yang dijual para pedagang yang menempati 32 kios ini beragam merek. Ada yang baru dan bekas pakai, ada yang impor dan buatan dalam negeri.

Untuk harga produk baru relatif sama. Misalnya untuk tren saat ini untuk pelek ukuran ring 14" dari harga Rp 1 jutaan hingga Rp 2,5 juta perbuah.

Untuk ban baru untuk pelek ring 14 mulai dari harga Rp 350 ribu. Sedangkan untuk ban bekas pakai rata-rata dijual Rp 100 ribuan tergantung dari ketebalannya.

"Untuk ban atau pelek bekas pakai tak ada batas harga bawah dan atas. Bisa jadi harga barunya sebuah ban Rp 500 ribu tapi harga bekasnya masih di atas Rp 300 ribu karena langka dan sedang tren," kata Jono.

Soal kendala, menurut Jono, saat ini para pedagang justru kesulitan membuang ban ban bekas yang sudah tidak bisa dipakai lagi. Lain dengan dulu, ban bekas masih bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan seperti kursi dan meja.

Sekarang tidak lagi, sebab ban produk saat ini bagian dalamnya menggunakan unsur baja.

"Malah sekarang kita bayar untuk buang ban bekas," imbuh Jono. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved