Smart Women

SMARTWOMEN: Bhinneka Tunggal Ika Dimata Putri Indonesia DIY 2017

Sera mengaku akan konsisten dalam mengangkat kepeduliannya itu untuk bisa menjadi kesadaran bagi semua orang.

SMARTWOMEN: Bhinneka Tunggal Ika Dimata Putri Indonesia DIY 2017
TRIBUNJOGJA.COM | Bramasto Adhy
Serafhina Saputro Putri Indonesia DIY 2017 

BAGI Serafhina Saputro, Bhinneka Tunggal Ika bukanlah sebuah slogan belaka. Menurutnya, Bhinneka Tunggal Ika merupakan dasar nilai hidup yang harus dipegang teguh setiap bangsa Indonesia.

Indonesia memiliki beragam suku, adat, budaya yang berkomitmen dalam ikatan kebhinnekaan. Karenanya, Sera, begitu ia akrab disapa, merasa prihatin dengan isu-isu SARA termasuk penistaan agama yang marak bergulir saat ini.

Padahal menurutnya, perbedaan tersebut harusnya menjadi kekuatan bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan dari negara asing.

”Selama ini banyak yang mengetahui Bhinneka Tunggal Ika hanya sebatas slogan saja, padahal yang memuat kita Indonesia itu adalah Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri,” ujar bungsu dua bersaudara ini.

Kepeduliannya terhadap keberagaman yang dimiliki Indonesia ini sudah diamini sejak lama. Isu ini juga ia paparkan saat audisi Puteri Indonesia di Yogyakarta yang berhasil mengantarkannya untuk mewakili Yogyakarta ke kompetisi ratu kecantikan di Jakarta pada Maret mendatang.

Di Jakarta mendatang, Sera mengaku akan konsisten dalam mengangkat kepeduliannya itu untuk bisa menjadi kesadaran bagi semua orang.

[RUBRIK] SMART WOMEN . . Rubrik Smart Women Koran Tribun Jogja Minggu ini bakal mengulas wanita cantik Putri Indonesia DIY 2017. Jangan kelewat ya... . . VIDEO: @kreatiftribunjogja #putriindonesia #smartwomen #beauty #video

Keseriusannya mengangkat isu Kebhinnekaan juga diwujudkan dengan keinginannya menulis buku dengan tema serupa. Saat ini, buku sedang dalam proses penyelesaian.

”Buku Kebhinnekaan ini akan lebih fokus ke Yogyakarta yang juga dikenal sebagai Indonesia mini supaya orang-orang lebih paham dan lebih damai dalam hidup berdampingan,” papar dara kelahiran 30 September 1994 ini.

Konsisten untuk menyebarkan semangat kebhinnekaan, mahasiswi tingkat akhir Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) ini juga tergabung dalam Gerakan Cinta Batik. Didaulat menjadi tokoh Gerakan Cinta Batik, dara berkulit putih ini mencoba memberikan materi kebhinnekaan melalui batik.

"Jadi di sini, batik menjadi alat pembelajaran tentang kebhinnekaan. Batik ini kan universal, sehingga mudah untuk memberikan pesan melalui batik," papar perempuan asli Sukoharjo ini.

Gerakan Cinta Batik ini relevan dengan ditetapkannya Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. Menyandang predikat tersebut, Yogyakarta harus menjalani verifikasi setiap empat tahun sekali.

Dengan menggandeng tokoh-tokoh lain semisal GKR Mangkubumi, Gilang Ramadan, gerakan inipun memiliki misi sebagai wadah enkulturasi budaya, edukasi dan kewirausahaan.

Terkait kebhinnekaan, ia mengakui menghadapi tantangan besar untuk memberikan pemahaman kebhinnekaan pada anak-anak muda. Karenanya, ia melakukan pendekatan ke anak muda maupun menjadi pembicara dalam banyak seminar yang bersegmen anak muda supaya pembelajaran kebhinnekaan bisa diterima secara lebih moderen dan relevan bagi mereka.

"Selama ini banyak dari kita yang mementingkan kepentingan pribadi, padahal Indonesia terdiri dari banyak suku. Apa jadinya kalau setiap orang ingin menang sendiri-sendiri?" tanyanya. (gya)

Penulis: gya
Editor: iwe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved