Kekerasan Pelajar

Seminggu Sebelum Meninggal, Pelajar Korban Aksi Klitih Sempat Pamitan Berulang Kali

Agus mengatakan seminggu sebelum kejadian, kepada sejumlah familinya, Adnan berpamitan berulang kali karena mengaku akan pergi yang lama.

Seminggu Sebelum Meninggal, Pelajar Korban Aksi Klitih Sempat Pamitan Berulang Kali
TRIBUNJOGJA.com | VICTOR MAHRIZAL
Karangan bunga ucapan duka di depan rumah duka korban aksi klithih Adnan Wirawan, di Purwomartani, Kalasan Rabu (14/12) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Victor Mahrizal

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Adnan Wirawan Ardiyanta (16), siswa SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta yang meninggal dunia akibat tusukan senjata tajam oleh siswa lain, dikebumikan pada pukul 14.00 WIB di Pemakaman Bayen Purwomartani Kalasan Sleman, Rabu (14/12/2016).

Ayanda Adnan, Agus Riyanto yang melepas kepergian putranya, kepada Tribun Jogja mengatakan nyawa putranya tidak bisa diselamatkan karena pendarahan pada organ dalam.

Baca: Jenazah Adnan, Pelajar SMA Korban Klitih Dimakamkan Siang Ini

"Tusukan itu menembus mengenai ginjalnya, sehingga mengakibatkan pendarahan parah," kata Agus Riyanto.

Baca: REALTIME NEWS: Keluarga Adnan Minta Polisi Basmi Geng Pelajar

Adnan meninggal dunia pada Selasa malam, 13 Desember 2016 sekitar pukul 19.30 WIB di Rumah Sakit Panti Rapih. Usai kejadian pembacokan di Selopamioro, Imogiri, Bantul, Adanan dipindahkan ke Jogja Internasional Hospital. Setelah itu, Adnan dipindah ke Rumah Sakit Panti Rapih.

Kasatreskrim Bantul_1412
Kasat Reskrim Polres Bantul, AKP Anggaito Hadi Prabowo saat menunjukkan sebilah clurit, yang digunakan sebagai senjata klitih anak-anak sekolah, yang beraksi di Imogiri kemarin, Selasa (13/12)

Agus mengatakan seminggu sebelum kejadian, kepada sejumlah familinya, Adnan berpamitan berulang kali karena mengaku akan pergi yang lama.

Baca: Polres Bantul Tangkap Kelompok Pelajar Pelaku Klitih yang Sabetkan Celurit ke Korbannya

"Mungkin itu bisa jadi sebuah firasat, tapi karena semua sehat dan baik-baik saja, kekuarga menganggap sebagai sebagai candaan saja, tidak terpikir ada kejadian ini," kenang Agus.

Ia mengatakan, saat akan pergi ke Gunung Kidul, Adnan pamit bertemu dengan teman-temannya. Pada Senin, 12 Desember 2016, saat pulang bertemu dengan gerombolan siswa SMA lainnya. Saat itulah terjadi pembacokan yang mengakibatkan meninggalnya siswa kelas X itu.(*)

Penulis: vim
Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved