KOMUNIKARTA
Sendratari Sejarah Berdirinya Desa Condongcatur
Pemerintah Desa Condongcatur juga memanfaatkan momen Condong Art Festival untuk menumbuhkan kecintaan pada wilayah yang berada di Kecamatan Depok itu.
Penulis: pdg | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pemerintah Desa Condongcatur juga memanfaatkan momen Condong Art Festival untuk menumbuhkan kecintaan pada wilayah yang berada di Kecamatan Depok itu.
Hal itu dilaksanakan dengan mereproduksi sejarah berdirinya desa melalui tari kolosal dan berbagai kegiatan seni lainnya yang akan digelar mulai tanggal 1 Desember 2016.
"Konon sebelum menjadi Desa Condongcatur, ada empat kelurahan lama yakni Manukan, Gorongan, Gejayan dan Kentungan yang memiliki lurahnya masing-masing. Atas dhawuh dari Sultan Hamengkubuwono IX, keempat wilayah itu pun disatukan pada tanggal 26 Desember 1946, dengan Kades Pertama Kromoredjo. Dua tahun setelahnya Sultan pun mengeluarkan Maklumat no 5 tahun 1948 untuk mengesahkan status tersebut," ujar Sekdes.
Hal itu dibenarkan oleh Ribut Suparman Wakil Ketua Condongcatur Art Festival 2016.
Menurutnya, secara etimologi nama desa tersebut telah menggambarkan peristiwa sejarah itu.
"Condong itu bahasa Jawa artinya setuju, sementara catur berarti empat. Artinya empat wilayah itu yang masing-masing dipimpin leh seorang lurah bersedia untuk disatukan," kata Kepala Dukuh Dero itu.
Dikatakannya, upaya tersebut merupakan cara untuk meluaskan pengetahuan kesejarahan desa.
"Ketika mereka mengetahui sejarahnya mereka diharapkan memiliki rasa handarbeni," tambahnya.
Adapun, tari kolosal tersebut akan diperagakan oleh 30 penari yang diiringi dengan pembacaan riwayat sejarah desa oleh seorang dalang.
Sementara itu, Kades Condongcatur Reno Candra Sangaji berharap agar kegiatan kali ini dapat mengokohkan sendi perekonomian desa.
"Di sisi lain, dengan adanya acara budaya ditampilkan pada hari jadi ke 70 ini kami selaku pemerintah desa ingin warga memperkuat jati diri budaya bangsa agar tidak terseret budaya global," pungkas Reno. (*)