Situs Gilang Lipuro, Warisan Budaya yang Mulai Dilupakan Generasi Muda
Dari banyaknya warisan budaya yang ada di Yogyakarta, salah satunya ada situs Gilang Lipuro, yang berada di Kauman
Penulis: abm | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Septiandri Mandariana
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Yogyakarta, dikenal oleh masyarakat dari daerah lain dan negara di luar Indonesia, sebagai salah satu wilayah yang memiliki banyak sekali warisan budaya.
Tidak hanya oleh pemerintah beserta masyarakatnya pun melakukan berbagai upaya dalam rangka melestarikan warisan budaya yang diturunkan oleh para pendahulu kepada generasi penerusnya.
Dari banyaknya warisan budaya yang ada di Yogyakarta, salah satunya ada situs Gilang Lipuro, yang berada di Kauman, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kepala Bidang Sejarah, Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan DIY, Erlina Hidayati menuturkan, situs Gilang Lipuro merupakan sebuah situs yang tadinya akan didirikan sebagai pusat kerajaan Mataram Islam, pusat kerajaannya berada di Kotagede.
Namun sangat disayangkan, situs tersebut tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas, di antaranya adalah generasi mudanya.
Padahal situs tersebut merupakan salah satu warisan budaya yang menjadi salah satu cikal bakal adanya Yogyakarta. Padahal hingga saat ini, di Gilang Lipuro dan sekitarnya banyak sekali potensi yang dirasa perlu untuk diketahui oleh masyarakat luas.
"Ada banyak potensi yang dimiliki dan masih dilestarikan oleh masyarakatnya, di antaranya adalah tradisi pandai besi yang hingga saat ini dilakukan," kata Erlina dalam jumpa pers Festival Situs Gilang Lipuro, Kamis (17/11/2016) kemarin di Pendapa Dinas Kebudayaan DIY.
"Selain kuat, produksi alat-alat pertanian dari daerah tersebut adalah pembuatan alat pertanian yang dibuat menyesuaikan dengan kondisi tanah di suatu daerah. Karena kondisi tanah di setiap daerah tidak sama dan memerlukan alat-alat pertanian tertentu," lanjut Erlina.
Hal itupun dibenarkan oleh Pardiyono, Kepala Desa Gilangharjo. Jelasnya, setiap kerajaan di masa lalu pasti memiliki tenaga-tenaga ahli dalam menciptakan berbagai hal.
Di antaranya tenaga ahli untuk membuat alat-alat pertanian. Saat situs Gilang Lipuro tidak dijadikan pusat kerajaan, ada beberapa tenaga ahli untuk pembuatan alat-alat pertanian yang tinggal dan tidak ikut pindah.
"Dari situlah dimulai tradisi dari masyarakat di sana yang menjadi pandai besi. Hingga saat ini masih banyak empu untuk membuat alat-alat pertanian di tempat kami. Malah saat ini banyak pula generasi muda di sana yang mulai belajar membuat perkakas pertanian," imbuh Pardiyono.
Kata Pardiyono, hasil produksi alat-alat pertanian dari tempatnya itu banyak sekali diminati oleh masyarakat dari wilayah lainnya. Tidak hanya dari pulau jawa, namun juga dari pulau seberang lainnya.
Keunikan dari alat-alat pertanian yang di produksi oleh masyarakat Gilangharjo yaitu alat-alat yang diciptakan untuk kondisi tanah tertentu.
"Tanah di Kota Yogyakarta beda dengan Gunungkidul. Begitupun dengan wilayah lainnya. Produk dari kami sangat bisa bersaing dengan produk alat-alat pertanian tradisional dari negara lain, dan sangat kuat walau tiap hari digunakan," jelasnya.
Oleh karena itu, pihaknya bersama Dinas Kebudayaan DIY menggelar Festival Situs Gilang Lipuro, pada 19 dan 20 November 2016 besok di Kompleks Petilasan Gilang Lipuro, Kauman, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/jp-situs-gilanglipuro_20161118_133441.jpg)