Kisah Perjalan Si Cantik Tata, Dari Putri Pantai Sukses Tembus Puteri Indonesia
Bakat modellingnya coba dikompetisikan melalui ajang Putri Pantai Tingkat Kabupaten
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menekuni bidang modelling sudah dilakukan Lita Ayudiah Capriati Mawar Makatita sejak kecil.
Sedari TK, Tata, begitu ia akrab disapa, sering mengikuti perlombaan modelling.
Baru setelah duduk di bangku SMA, Tata menseriusinya dengan mengikuti modelling school di tanah kelahirannya, Sorong.
Bakat modellingnya coba dikompetisikan melalui ajang Putri Pantai Tingkat Kabupaten.
Di ajang ini, Tata tak hanya diuji secara fisik, namun juga pengetahuan.
"Menjadi Putri Pantai itu harus memiliki pengetahuan yang luas, karena saya bertugas mempromosikan kekayaan pantai yang dimiliki Papua Barat," kata dara kelahiran 31 Desember 1992 ini.
Tiga Besar
Langkah perempuan berpostur tinggi nan ramping ini berlanjut ke ajang Putri Indonesia 2013 yang hanya bisa menjadi tiga besar di Papua Barat.
Mengaku tidak memiliki banyak persiapan, mahasiswi STP AMPTA Yogya inipun harus legowo menyandang Putri Indonesia Berbakat Papua Barat 2013.
Kesempatan untuk bisa mengharumkan Papua Barat juga ia coba saat menjadi Putri Kopi Papua Barat pada tahun 2014.
Ajang ini tentunya tidak mudah, karena Tata harus mengenali potensi-potensi biji kopi di Papua Barat.
Ibarat ambisi yang harus teraih, mahasiswa tingkat akhir inipun kembali mendaftar pada ajang Putri Indonesia Papua Barat 2016.
Matang
Berbekal pengalaman mengikuti ajang yang sama pada tahun 2013 silam, Tata kali ini mendaftar dengan persiapan yang matang.
Persiapan tersebut mencakup pengayaan pengetahuan mengenai daerah yang diwakilinya, Papua Barat.
Persiapan itupun tidak sia-sia karena Tata berhasil memboyong predikat Putri Indonesia Persahabatan 2016.
"Semua berubah saat menerima slempang Putri Persahabatan. Saat menekuni karir modelling, biasanya saya dikenal hanya saat turun panggung. Namun sekarang saya jadi lebih dikenal banyak orang, bertemu orang-orang penting, menjadi juri Miss Bantul, jadi pemateri Dimas Diajeng dan melatih modelling," tutur anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Belum Pulang
Kesibukan itulah yang memaksanya terus berada di tanah Jawa, untuk melakoni segudang aktivitasnya.
Bahkan setelah mengikuti ajang Putri Indonesia 2016 lalu, Tata mengaku belum sempat kembali ke kampung halamannya, Sorong.
Namun ia cukup beruntung memiliki keluarga yang sangat mendukung cita-citanya untuk berkiprah di dunia modelling.
Dengan pencapaiannya saat ini, Tata menyimpan mimpi untuk bisa menjadi seorang pramugari jika semua ambisi modellingnya sudah terpenuhi.
Menjadi pramugari, menurutnya merupakan profesi yang dapat memenuhi hobi travellingnya.
"Kalau jadi pramugari kan kemana pun gratis dan bisa ketemu orang-orang baru. Sejauh ini belum ada persiapan ke sana (menjadi pramugari-red), saya mau menyelesaikan kuliah dulu," ucap mahasiswa tingkat akhir ini. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/lita-ayudiah-capriati-mawar-makatita_20161118_165311.jpg)