Breaking News:

Sastra

CERPEN: Ode Sepak Bola yang Tak Terbeli

Tapi setiap lembar lima ribuan dikumpulkan untuk menyewa lapangan berumput palsu dari plastik untuk bermain sepak bola.

Clickbacks - Robert Genn
Ilustrasi 

DI ruang tamu rumah itu, sesosok bocah kelas 4 sekolah dasar menimang bola berbahan karet butut yang dibeli setahun lalu di pasar desa. Berimpitan dengan meja kursi usang, dia mulai menendang-nendang pelan bola warna biru. Vas kayu, tumpukan buku, lengkap dengan teriakan ibu adalah teman berpeluh dia memorandakan seisi ruangan, sembari menunggu teman-teman pulang dari sekolahan.

Entah sudah berapa kali pigura potret wisuda SMP sang kakak jatuh dari dinding tempatnya terpaku. Kaca-kaca berantakan terkena bola tendangan kaki kiri bocah bernama Rafa itu. Bapaknya hanya diam setiap hal itu terjadi. Mungkin sudah bosan melihat tingkah anaknya yang memang membutuhkan ruang untuk sekadar menggerakkan badan.

Setiap bola keluar dari pintu rumah, pasti langsung menerjang jalanan sempit berukuran satu setengah meter yang menjulur di antara rimbunnya bangunan-bangunan sederhana. Beruntung jika bola si Rafa tak tertabrak motor yang lewat di depan rumahnya. Tapi sudah pasti sang ibu langsung melepas omelan.

Dulu bocah-bocah di kampung itu tak perlu pusing mencari lapangan untuk saling pamer tendangan. Tanpa alas kaki dan bergawang sandal, hanya kumandang azan di ujung senja nan remang yang bisa membubarkan kegirangan memainkan olahraga yang konon paling populer di kolong langit ini.

Haji Misbakh masih memiliki hamparan tanah lapang berumput subur yang bebas digunakan untuk bertanding sepak bola. Jika para pemuda tak malas, berdirilah dua gawang dari bambu di sisi utara dan selatan lapangan. Dengan bola hasil patungan dari recehan uang saku sekolahan, anak-anak sampai remaja tanggung yang belum lama kulup burungnya dilepas dari batang beradu badan dengan riang. Siapa kebobolan duluan harus rela melepas bajunya. Tapi meski sudah membobol sepuluh gol tak berbalas sekalipun, tetap dihitung kalah jika gawang timnya jebol menjelang magrib datang.

Tapi itu cerita lalu yang muskil diulang. Rafa, Jendra, Kipli, Dani, Fajar, dan teman sebayanya tak pernah lagi menikmati luasnya lapangan. Ada rumah yang punya pekarangan lima meter saja sudah bagus. Kini tanah-tanah Haji Misbakh sudah berganti rupa dengan bangunan perumahan yang penghuninya orang luar kota. Sawah di seberang Kali Wiso kini sudah dikelilingi pagar seng berpapan besar berisi tulisan "Segera Dibangun Pusat Perbelanjaan Saripan Square."

Maka, Rafa dan kawan-kawannya tak punya pilihan lain untuk bercengkerama membunuh waktu, selain saling menyepak bola di atas aspal berlubang tepat di ujung gang. Itu pun harus berbagi tempat dengan lalu lalang motor tukang sayur, penjual cilok, juga gulali yang setiap hari ingin mengais rezeki di kampung padat penghuni.

Sedangkan remaja dan orang-orang tua yang sudah punya penghasilan dari berkesenian mengukir kayu kini tak lagi patungan untuk membeli bola. Tapi setiap lembar lima ribuan dikumpulkan untuk menyewa lapangan berumput palsu dari plastik untuk bermain sepak bola.

Tapi Rafa dan sekaribnya tak pernah bisa menikmati kesenangan serupa dengan orang-orang yang sudah kerja. Uang pemberian orangtua mereka tak pernah cukup, meski dikumpulkan ramai-ramai untuk menyewa barang satu jam lapangan beratapkan baja ringan itu. Kini bermain bola dengan waktu tak berbatas pun tak terbeli. Karena setiap gocekan juga tendangan di lapangan berumput itu sama dengan berkurangnya waktu yang harus dibayar dengan lembar rupiahmu. (hendy kurniawan)

Sebuah narasi untuk Bola Raya-nya Silampukau.

Penulis: Hendy Kurniawan
Editor: Iwan Al Khasni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved