Kisah Mantan Mucikari Giwangan yang Telah Insyaf, Kini Ia Pilih Buka Usaha Angkringan

Ia dulu sempat diangkat sebagai wakil ketua Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta.

Kisah Mantan Mucikari Giwangan yang Telah Insyaf, Kini Ia Pilih Buka Usaha Angkringan
Tribun Jogja/ M Resya Firmansyah
Suasana angkringan milik Mak Temu, mantan mucikari yang beroperasi selama 36 tahun saat dikunjungi wartawan, Selasa (8/11/2016) 

TRIBUNJOGJA.COM - Menjadi mucikari selama 36 tahun dengan penghasilan jutaan rupiah per harinya, tak membuat Mak Temu bergelimang harta, bahkan malah sebaiknya. Hingga akhirnya di 2016, salah satu mucikari berpengaruh di Kota Yogyakarta ini insyaf dan memilih menjadi penjual angkringan.

Jarum jam menunjukkan pukul 13.00 WIB. Suasana dua angkringan yang berada di sebelah selatan Terminal Giwangan itu masih sepi.

Dari dua angkringan itu, tak tampak terdapat pembeli. Setelah beberapa kali mengitari kawasan ini, Tribun Jogja pun berhenti di salah satu angkringan.

Saat memasuki angkringan, seorang perempuan berusia 60 tahun menghampiri. Tanpa basa-basi, dia langsung bertanya kepada Tribun Jogja terkait kepentingan datang ke angkringannya. Memang sebelumnya, Tribun Jogja menghubungi ketua RT setempat untuk mewawancarai pemilik angkringan.

“Tadi Pak RT menghubungi saya, katanya ada wartawan mau datang ke sini. Bagaimana mas?” ujar perempuan bernama Temu Asih itu, Selasa (8/11/2016).

Berdasar informasi dari ketua RT setempat, Temu Asih merupakan mucikari di RW 9 Giwangan yang insyaf sebelum bulan Ramadan 2016 lalu. Selama ini, Temu Asih dikenal sebagai salah satu mucikari berpengaruh, sehingga dulu sempat diangkat sebagai wakil ketua Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta.

“Saya memang niat insyaf mas. Sudah tua, apalagi sudah punya anak cucu,” ucap Mak Temu, sapaan akrabnya saat disinggung mengenai alasan berhenti menjadi mucikari.

Dia pun mengungkapkan mulai mengelola usaha prostitusi sejak tahun 1970-an. Ketika itu, Mak Temu melanjutkan usaha orangtuanya yang mewarisi sebuah losmen di kawasan lokalisasi Pesanggrahan, Giwangan. Saat Pesanggrahan ditutup pada 1997, dia membuka rumah bordir di RW 9 Giwangan.

“Pendapatan dari menyewakan kamar dan menjajakkan PSK, per malamnya memang bisa mencapai jutaan. Tapi kalau saya pikir, pengeluarannya sampai dua kali lipat. Ibaratnya, pendapatan cuma Rp 100 ribu, tapi pengeluarannya bisa Rp 200 ribu,” jelasnya.

Sadar bahwa pendapatannya tak halal dan tak menuai keuntungan, serta cucunya yang mulai tumbuh dewasa, Mak Temu terbersit pikiran untuk berhenti menjadi mucikari di 2016. Hingga akhirnya sebelum bulan Ramadan, dia menyampaikan niatnya tersebut kepada pengurus RT dan RW setempat.

Halaman
12
Penulis: mrf
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved