Disbud DIY Fasilitasi Jambore Difabel Istimewa

Sejumlah Rp 125 juta anggaran dari Danais, untuk kali pertama digunakan Dinas Kebudayaan DIY untuk memfasilitasi kegiatan Jambore Difabel Istimewa.

Disbud DIY Fasilitasi Jambore Difabel Istimewa
tribunjogja/agung ismiyanto
Sejumlah difabel yang mengenyam pendidikan di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) Pundong saling membantu saat kegiatan olahraga di jalan Desa Srihardono, Keamatan Pundong. (Ilustrasi) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sejumlah Rp 125 juta anggaran dari Danais, untuk kali pertama digunakan Dinas Kebudayaan DIY untuk memfasilitasi kegiatan Jambore Difabel Istimewa.

Diterangkan Kepala Seksi Sejarah Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY, Bambang Marsamtoro, dari sisi sejarah, penyandang disabilitas mendapatkan porsi yang istimewa di lingkungan Keraton Ngayogyakarta.

Mereka disebut dengan Abdi Dalem Polowijan.

"Abdi Dalem Polowijan setara dengan penyandang disabilitas. Pada upacara adat, mereka mendapatkan tempat yang cukup memadai. Saat kirab pun diposisikan di barisan paling depan, yakni di depan Sultan. Nama Polowijan juga diabadikan menjadi nama jalan," ungkapnya pada saat Jumpa Pers Jambore Difabel Istimewa di Auditorium Sonobudoyo, Rabu (9/11/2016).

Selain itu, Bambang menjelaskan bahwa berdasarkan Undang-Undang nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, pada pasal 5 ayat 1 disebutkan 21 hak penyandang disabilitas.

Beberapa di antaranya adalah urusan kebudayaan dan pariwisata,serta berekspresi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Dasar tersebut yang menjadi landasan untuk menggelar Jambore Difabel Istimewa.

"Kami melaksanakan rapat baru tiga kali. Rapat pertama hanya dihadiri 10 komunitas, kedua ada tambahan 1-2 komunitas, dan rapat ketiga sudah ada 20. Sambutannya bagus dan terlihat antusias," terangnya.

Sementara itu, Koordinator Sarasehan Jambore Difabel Istimewa, Agung Budyawan menjelaskan untuk sarasehan terbagi dalam tiga sesi.

Mulai dari membahas tema Polowijan Disabilitas dalam Tradisi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Perspektif Disabilitas dalam Pengembangan Kebudayaan, Menuju Kota Inklusi dalam Pengembangan Ruang Publik.

"Pembicara yang kami hadirkan untuk sarasehan, ada dari pihak Penghageng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, penulis buku tentang disabilitas, penyandang disabilitas, dan juga Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY," tuturnya.

Jambore Difabel Istimewa dilaksanakan selama dua hari, yakni pada 12-13 November 2016.

Pada hari pertama, dilangsungkan kirab yang diawali di Kompleks Kepatihan menuju Eks Gedung KONI, pembukaan pameran dan workshop komunitas, penampilan porensi komunitas, dan diskusi panel.

Agenda hari kedua tidak jauh beda seperti di hari pertama, namun di penghujung acara perwakilan komunitas berkumpul untuk membuat rekomendasi dan juga dilakukan penutupan acara. (*)

Penulis: kur
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved