Pedagang Tradisional Resah Wacana Bupati Tak Batasi Jumlah Toko Modern

Bukan tidak mungkin keberadaan toko modern berjejaring itu akan menjadi pembunuh keberlangsungan pedagang tradisional dan toko kelontong di Bantul.

Pedagang Tradisional Resah Wacana Bupati Tak Batasi Jumlah Toko Modern
tribunjogja/anggapurnama
Sebuah toko modern. (ILUSTRASI) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Wacana Bupati Bantul untuk tidak membatasi jumlah toko modern berjejaring yang akan masuk ke wilayah Projotamansari menimbulkan keresahan bagi pedagang tradisional dan kelontong.

Mereka menyatakan bukan tidak mungkin keberadaan toko modern berjejaring itu akan menjadi pembunuh keberlangsungan pedagang tradisional dan toko kelontong di Bantul.

Sejumlah pedagang tradisional dan pemilik toko kelontong yang diwawancarai Tribun Jogja mengaku keberadaan toko modern berjejaring akan menjadi ancaman.

Sehingga, jika memang ada wacana tidak ada pembatasan jumlah, meski jarak diatur, akan menimbulkan polemik.

“Kami tetap menolak adanya toko modern berjejaring masuk ke Bantul. Tidak hanya pedagang tradisional saja yang akan mati, namun pemilik toko modern non jejaring juga akan mati,” ulas Sukarno, Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Piyungan kepada Tribun Jogja.

Sukarno yang sudah 16 tahun bergelut menjadi pedagang sayuran dan toko kelontong di sekitar Pasar Piyungan sadar benar jika keberadaan toko modern berjejaring tak ubahnya seperti pembunuh.

Senyap tetapi rakus, menjamurnya toko-toko modern berjejaring di Bantul akan menimbulkan dampak negatif.

Beberapa tahun terakhir setelah menjamurnya pendirian toko modern, Sukarno kerap mendapat keluhan dari para pedagang tradisional. Sebagian diantaranya gulung tikar karena adanya toko tersebut.

“Namun, banyak yang hidup segan mati tak mau. Toko mereka tetap bertahan meski harus menghadapi kenyataan pahit banyak pelanggan yang memilih toko modern berjejaring,” ujar Sukarno.

Dari beberapa kondisi ril di lapangan ini, pihaknya berharap adanya revisi Peraturan Daerah (Perda) mengenai pasar dan pendirian toko modern benar-benar bisa memihak pada pedagang kecil.

Bukan sebaliknya, adanya revisi Perda justru menguntungkan investor toko modern berjejaring.

“Maka, benar-benar harus dipikirkan adanya dampak jika tidak membatasi jumlah toko modern di Bantul. Persoalan jarak dan jam operasional ini cukup penting menjadi pertimbangan,” ulasnya. 

Mulai dari
Revisi Perda
Halaman
Penulis: ais
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved