Jika Ingin Mengkustom Motor Jangan Sampai Minta Uang ke Orangtua

Ketika itu ada seorang remaja yang memiliki motor Honda Tiger dan ia meminta Lulut untuk memberikan saran kepadanya

Jika Ingin Mengkustom Motor Jangan Sampai Minta Uang ke Orangtua
Tribun Jogja/Septiandri
Lulut Wahyudi bersama tim dari Retro Classic Cycles memperkenalkan Lucky Draw Kustomfest 

Semakin Banyak Kustom Builder di Indonesia

Laporan Reporter Tribun Jogja, Septiandri Mandariana

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Memiliki sebuah barang yang limited, atau sesuatu yang tidak dimiliki lagi oleh orang lain, bagi segelintir orang merupakan kebanggaan bagi dirinya.

Salah satunya adalah dengan memiliki kendaraan pribadi kustom, atau dengan kata lain hanya satu-satunya dimiliki oleh seseorang.

Kata Lulut Wahyudi, Direktur Kustomfest, bahkan banyak pesohor dari Hollywood yang memiliki kendaraan kustom, dan hal itu menjadi sebuah kebanggaan bagi dirinya.

Begitupun dengan kondisi yang terjadi sejak beberapa tahun terakhir di Indonesia, semakin banyak kustom builder, atau para penggiat kustom untuk menciptakan karya-karyanya.

Bahkan kata kustom builder asal Yogyakarta ini, sudah banyak kustom builder asal Indonesia yang bisa menginspirasi orang-orang dari luar Indonesia.

"Untuk di Indonesia sendiri sudah tersebar dan lebih banyak lagi kustom builder. Di Yogyakarta juga. Dulu orang yang punya motor CC kecil parkir berdampingan dengan motor dengan CC besar agak malu. Tapi sekarang sudah berbeda, masyarakat lebih bangga ketika memiliki kendaraan kustom yang diciptakannya sendiri," ujar Lulut dalam perbincangannya bersama Tribun Jogja beberapa waktu lalu.

Ujar, mengkustom kendaraan bukan memindahkan berbagai aksesoris yang dijual di toko-toko otomotif. Maka dari itu muncullah sebuah anggapan, dimana dunia kustom sangatlah mahal jika dilakukan, dan hanya dapat dilakukan oleh segelintir orang.

"Kalau seperti itu ya namanya toko berjalan. Semua orang pasti bisa. Untuk mengkustom kendaraan tidak perlu uang yang besar, yang diperlukan dalam dunia kustom adalah konsep," paparnya.

"Makanya suka ada yang tanya, kenapa motor saya nggak lolos untuk ditampilkan di Kustomfest, padahal sudah menghabiskan biaya modif ratusan juga. Bukan itu yang dicari, tetapi konsep lah dicari," jelasnya.

Ada sebuah pengalaman menarik yang pernah dialami oleh Lulut.

Ketika itu ada seorang remaja yang memiliki motor Honda Tiger dan ia meminta Lulut untuk memberikan saran kepadanya, agar remaja tersebut bisa melakukan kustom pada kendaraannya.

Namun ketika itu Lulut hanya meminta kepada si remaja agar tetap menggunakan motornya, dan menyarankan jika ingin melalukan kustom jangan sampai meminta kepada orangtua.

"Dan ketika ketemu lagi, dia bawa motor Honda keluaran tahun 1970-an yang sudah full kustom. Dia bercerita telah menjual motornya yang lama, lalu membeli motor biasa yang ia kustom sendiri. Itu keren. Kalau anak muda berpikir seperti dia, nggak akan ada waktu untuk berperilaku membuat sebuah kenakalan yang berujung pada kriminalitas," tambah Lulut. (tribunjogja.co,)

Penulis: abm
Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved