Ajak Anak Muda Kritisi Kapitalisme Industri Rokok

anak muda diajak terlibat aktif melawan praktek eksploitasi yang dilakukan oleh berbagai kekuatan kapital, terutama industri rokok.

Ajak Anak Muda Kritisi Kapitalisme Industri Rokok
net
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Social Movement Institute bersama Komnas Pengendalian Tembakau mengadakan pelatihan Activist for Beginners (Aktivis untuk Pemula), Sabtu (8/10/2016) di Hotel Tjokro Style Yogyakarta.

Pemahaman peran seorang aktivis, tantangan yang dihadapi, dan kesempatan yang dapat diperoleh diberikan kepada sejumlah anak muda dalam pelatihan kali ini. 

Acara ini merupakan upaya untuk membuat anak muda memerankan diri sebagai aktivis melawan segala praktek ketidakadilan yang dihadapi.

Pada pelatihan ini, anak muda diajak terlibat aktif melawan praktek eksploitasi yang dilakukan oleh berbagai kekuatan kapital, terutama industri rokok

“Rokok telah jadi bisnis raksasa di mana laba yang ditumpuk telah membuat para pemilknya jadi jutawan. Ini harta karun yang didapat dengan cara yang paling keji, memanipulasi kesadaran," ungkap Eko Prasetyo, Dewan Pembina Social Movement Institute. 

Alasan tersebut bukan tanpa dasar. Menurutnya saat ini Indonesia sedang menghadapi situasi darurat rokok.

Pada pertengahan tahun lalu Badan Pusat Statisik (BPS) merilis hasil survei bahwa rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua terbesar setelah beras.

Lalu kajian Lembaga Demografi FEUI, lajutnya, menyebut jika konsumsi rumah tangga termiskin untuk rokok sebesar 14 kali biaya konsumsi daging, 11 kali biaya kesehatan, dan 7 kali biaya pendidikan. 

"Ini artinya, masyarakat miskin di Indonesia membelanjakan uangnya lebih besar untuk rokok dibanding kebutuhan lain yang lebih penting, seperti kebutuhan protein keluarga (daging, telur, ikan), pendidikan, dan kesehatan," tambahnya. 

Dianita Soegiyo, Muhammadiyah Tobacco Control Center menambahkan, Indonesia saat ini membutuhkan aturan yang komprehensif dalam pengendalian produk tembakau. 

"Keadaan yang sudah sangat mendesak ini harusnya membuat presiden sadar untuk segera bergabung dengan 180 negara lain di dunia yang telah mengaksesi FCTC demi melindungi rakyatnya dari epidemi bahaya rokok,” ungkapnya. (*)

Penulis: akb
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved