Petani Kacang Terpaksa Panen Dini Akibat Hujan Deras
Para petani di sejumlah kecamatan di Bantul harus gigit jari karena harus memanen dini tanaman pangan mereka.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Para petani di sejumlah kecamatan di Bantul harus gigit jari karena harus memanen dini tanaman pangan mereka.
Hal ini lantaran hujan yang terus menerus mengguyur kawasan DIY selama beberapa pekan membuat tanaman membusuk dan gagal panen.
Di kawasan Srihardono, Kecamatan Pundong, ratusan petani yang menanam kacang harus meratapi nasib gagal panen. Pasalnya, kacang yang mereka tanam sejak beberapa bulan silam harus dipanen dini.
“Kacangnya membusuk dan harus disortir padahal masih berumur 70 hari. Idealnya, kacang dipanen pada umur 85 hari,” ujar Watiyem kepada Tribun Jogja, Kamis (6/10/2016).
Watiyem yang merupakan warga Bobok Tempel, Seloharjo, Kecamatan Pundong ini pun harus merugi lebih dari 50 persen.
Jika panenan normal mencapai 150 kilogram. Usai diguyur hujan deras beberapa waktu lalu, kacang tanah yang diharapkan mampu menghasilkan Rp 2 hingga 3 juta sekali panen, ternyata gagal panen.
Menurutnya, untuk 50 lubang atau 500 meter persegi modal yang dihabiskan bisa mencapai Rp 1 jutaan.
Namun, karena membusuk, maka, kacang yang bisa dijual pun hanya sedikit. Harga per kilogramnya pun menjadi anjlok dari Rp 14 ribu per kg menjadi Rp 2 ribu hingga 5 ribu untuk kualitas kering yang bagus.
“Petani pun harus menjemur kacang dan menyortirnya dengan kacang busuk agar bisa dijual ke pedagang,” ulasnya.
Ponijo, petani lainnya warga Karangasem, Soka, Pundong juga mengeluhkan hal serupa.
Dia mengatakan, petani kelabakan setelah lahan pertanian tergenang air dan menyebabkan kacang cepat membusuk dan gagal panen.
Usai gagal menikmati hasil panen kacang, Ponijo pun masih menunggu cuaca yang baik untuk bertanam padi.
“Kami masih menunggu cuaca yang baik agar bisa kembali menanam,” ulasnya. (tribunjogja.com)